Senin, 01 Juli 2013
pembuatan pupuk padat
Cara Membuat Pupuk Organik Padat dari Kotoran Kambing
3
Dalam bahasa bugis disebut tai bembe' sedang dalam bahasa Indonesia disebut kotoran kambing. Nah, inilah cara memamfaatkan kotoran-kotoran tersebut. Pengolahan bahan organik/limbah kandang biasanya melihat kondisi kandungan air pada kotoran ternak, jika kotoran ternak pada kondisi basah bahan decomposer sebaiknya menggunakan decomposer padat/tepung, ditambah bahan limbah organik lain (abu, sekam, dolomit, sersah tanaman) agar kelembaban bahan organik dengan kadar air 40%. Sedangkan bila kondisi kotoran ternak kering bisa meggunakan decomposer cair yang dilarutkan pada air kemudian disiramkan sekaligus untuk tujuan mengatur kelembaban dengan kadar air 40%.
Teknologi pembuatan pupuk organik dari limbah kandang atau kotoran ternak juga telah banyak dihasilkan dengan berbagai cara pengolahan. Berikut cara pengolahan pupuk organik dari bahan organik kotoran atau limbah kandang ternak kambing.
PEMBUATAN PUPUK ORGANIK PADAT DARI KOTORAN KAMBING
BAHAN :
· 1 ton kotoran kambing
· 200 kg kapur pertanian (Dolomit)
· 200 kg abu sekam
· 4 kg primadec (decomposer)
· 6 kg pupuk SP-36
Alat :
· Cangkul
· Terpal
· Ember
Tahapan pembuatan Pupuk Organik Padat (POP) Kotoran Kambing
Siapkan tempat atau hamparan yang ternaungi dan jika hujan tempat tersebut tidak tergenang air.
Lakukan proses pencampuran bahan, agar mudah dan merata bisa dilakukan dengan cara membuat lapisan-lapisan.
Pembuatan lapisan dengan cara menghamparkan kotoran kambing dan sersah bahan organik lain setebal kurang lebih 30 cm dan taburkan dolomit, abu dan decomposer secukupnya.
Kemudian siapkan pupuk SP-36 secukupnya dari dosis yang ditetapkan yang dilarutkan dalam air kemudian disirampkan pada lapisan tersebut hingga kadar air mencapai 40%. Atau bisa diukur dengan cara diremas dengan tangan air tidak meneteskan atau bahan organik tidak pecah saat genggaman tangan dibuka.
Buat lapisan berikutnya hingga semua bahan habis, kemudian lapisan tersebut dicangkul dari salah satu sisi searah hingga menimbulkan timbunan baru.
Lakukan lagi kearah kebalikannya, kemudian ditimbun atau dibuat gunungan sebesar lebar terpal penutup.
Timbunan ditutup rapat dengan terpal dan bagian pinggir terpal diberi beban sehingga jika ada angin terpal tidak terbuka.
Diamkan selama 1 minggu, setelah satu minggu terpal dibuka dan timbunan diaduk untuk tujuan pemberian airasi pada proses pengomposan. Proses pengomposan yang berhasil akan timbul panas dan dapat dirasakan saat pembongkaran gundukan.
Cara aplikasi pada tanaman :
Aplikasi pupuk organik untuk tanaman musiman dapat dilakukan bersamaan saat pengolahan lahan, Pemupukan pada tanaman tahunan, sebaiknya dibenam pada bagian ujung perakaran, dan setiap tanaman umumnya memiliki ujung perakaran berada tepat dibawah daun paling ujung dari tanaman tersebut. Semakin banyak pupuk organik diberikan semakin meningkat kesuburan tahan.
Cara Membuat Pupuk Organik Padat dari Kotoran Kambing
3
Dalam bahasa bugis disebut tai bembe' sedang dalam bahasa Indonesia disebut kotoran kambing. Nah, inilah cara memamfaatkan kotoran-kotoran tersebut. Pengolahan bahan organik/limbah kandang biasanya melihat kondisi kandungan air pada kotoran ternak, jika kotoran ternak pada kondisi basah bahan decomposer sebaiknya menggunakan decomposer padat/tepung, ditambah bahan limbah organik lain (abu, sekam, dolomit, sersah tanaman) agar kelembaban bahan organik dengan kadar air 40%. Sedangkan bila kondisi kotoran ternak kering bisa meggunakan decomposer cair yang dilarutkan pada air kemudian disiramkan sekaligus untuk tujuan mengatur kelembaban dengan kadar air 40%.
Teknologi pembuatan pupuk organik dari limbah kandang atau kotoran ternak juga telah banyak dihasilkan dengan berbagai cara pengolahan. Berikut cara pengolahan pupuk organik dari bahan organik kotoran atau limbah kandang ternak kambing.
PEMBUATAN PUPUK ORGANIK PADAT DARI KOTORAN KAMBING
BAHAN :
· 1 ton kotoran kambing
· 200 kg kapur pertanian (Dolomit)
· 200 kg abu sekam
· 4 kg primadec (decomposer)
· 6 kg pupuk SP-36
Alat :
· Cangkul
· Terpal
· Ember
Tahapan pembuatan Pupuk Organik Padat (POP) Kotoran Kambing
Siapkan tempat atau hamparan yang ternaungi dan jika hujan tempat tersebut tidak tergenang air.
Lakukan proses pencampuran bahan, agar mudah dan merata bisa dilakukan dengan cara membuat lapisan-lapisan.
Pembuatan lapisan dengan cara menghamparkan kotoran kambing dan sersah bahan organik lain setebal kurang lebih 30 cm dan taburkan dolomit, abu dan decomposer secukupnya.
Kemudian siapkan pupuk SP-36 secukupnya dari dosis yang ditetapkan yang dilarutkan dalam air kemudian disirampkan pada lapisan tersebut hingga kadar air mencapai 40%. Atau bisa diukur dengan cara diremas dengan tangan air tidak meneteskan atau bahan organik tidak pecah saat genggaman tangan dibuka.
Buat lapisan berikutnya hingga semua bahan habis, kemudian lapisan tersebut dicangkul dari salah satu sisi searah hingga menimbulkan timbunan baru.
Lakukan lagi kearah kebalikannya, kemudian ditimbun atau dibuat gunungan sebesar lebar terpal penutup.
Timbunan ditutup rapat dengan terpal dan bagian pinggir terpal diberi beban sehingga jika ada angin terpal tidak terbuka.
Diamkan selama 1 minggu, setelah satu minggu terpal dibuka dan timbunan diaduk untuk tujuan pemberian airasi pada proses pengomposan. Proses pengomposan yang berhasil akan timbul panas dan dapat dirasakan saat pembongkaran gundukan.
Cara aplikasi pada tanaman :
Aplikasi pupuk organik untuk tanaman musiman dapat dilakukan bersamaan saat pengolahan lahan, Pemupukan pada tanaman tahunan, sebaiknya dibenam pada bagian ujung perakaran, dan setiap tanaman umumnya memiliki ujung perakaran berada tepat dibawah daun paling ujung dari tanaman tersebut. Semakin banyak pupuk organik diberikan semakin meningkat kesuburan tahan.
Cara Membuat Pupuk Organik Padat dari Kotoran Kambing
Dalam bahasa bugis disebut tai bembe' sedang dalam bahasa Indonesia disebut kotoran kambing. Nah, inilah cara memamfaatkan kotoran-kotoran tersebut. Pengolahan bahan organik/limbah kandang biasanya melihat kondisi kandungan air pada kotoran ternak, jika kotoran ternak pada kondisi basah bahan decomposer sebaiknya menggunakan decomposer padat/tepung, ditambah bahan limbah organik lain (abu, sekam, dolomit, sersah tanaman) agar kelembaban bahan organik dengan kadar air 40%. Sedangkan bila kondisi kotoran ternak kering bisa meggunakan decomposer cair yang dilarutkan pada air kemudian disiramkan sekaligus untuk tujuan mengatur kelembaban dengan kadar air 40%.
Teknologi pembuatan pupuk organik dari limbah kandang atau kotoran ternak juga telah banyak dihasilkan dengan berbagai cara pengolahan. Berikut cara pengolahan pupuk organik dari bahan organik kotoran atau limbah kandang ternak kambing.
PEMBUATAN PUPUK ORGANIK PADAT DARI KOTORAN KAMBING
BAHAN :
· 1 ton kotoran kambing
· 200 kg kapur pertanian (Dolomit)
· 200 kg abu sekam
· 4 kg primadec (decomposer)
· 6 kg pupuk SP-36
Alat :
· Cangkul
· Terpal
· Ember
Tahapan pembuatan Pupuk Organik Padat (POP) Kotoran Kambing
Siapkan tempat atau hamparan yang ternaungi dan jika hujan tempat tersebut tidak tergenang air.
Lakukan proses pencampuran bahan, agar mudah dan merata bisa dilakukan dengan cara membuat lapisan-lapisan.
Pembuatan lapisan dengan cara menghamparkan kotoran kambing dan sersah bahan organik lain setebal kurang lebih 30 cm dan taburkan dolomit, abu dan decomposer secukupnya.
Kemudian siapkan pupuk SP-36 secukupnya dari dosis yang ditetapkan yang dilarutkan dalam air kemudian disirampkan pada lapisan tersebut hingga kadar air mencapai 40%. Atau bisa diukur dengan cara diremas dengan tangan air tidak meneteskan atau bahan organik tidak pecah saat genggaman tangan dibuka.
Buat lapisan berikutnya hingga semua bahan habis, kemudian lapisan tersebut dicangkul dari salah satu sisi searah hingga menimbulkan timbunan baru.
Lakukan lagi kearah kebalikannya, kemudian ditimbun atau dibuat gunungan sebesar lebar terpal penutup.
Timbunan ditutup rapat dengan terpal dan bagian pinggir terpal diberi beban sehingga jika ada angin terpal tidak terbuka.
Diamkan selama 1 minggu, setelah satu minggu terpal dibuka dan timbunan diaduk untuk tujuan pemberian airasi pada proses pengomposan. Proses pengomposan yang berhasil akan timbul panas dan dapat dirasakan saat pembongkaran gundukan.
Cara aplikasi pada tanaman :
Aplikasi pupuk organik untuk tanaman musiman dapat dilakukan bersamaan saat pengolahan lahan, Pemupukan pada tanaman tahunan, sebaiknya dibenam pada bagian ujung perakaran, dan setiap tanaman umumnya memiliki ujung perakaran berada tepat dibawah daun paling ujung dari tanaman tersebut. Semakin banyak pupuk organik diberikan semakin meningkat kesuburan tahan.
Cara Membuat Pupuk Organik Padat dari Kotoran Kambing
Dalam bahasa bugis disebut tai bembe' sedang dalam bahasa Indonesia disebut kotoran kambing. Nah, inilah cara memamfaatkan kotoran-kotoran tersebut. Pengolahan bahan organik/limbah kandang biasanya melihat kondisi kandungan air pada kotoran ternak, jika kotoran ternak pada kondisi basah bahan decomposer sebaiknya menggunakan decomposer padat/tepung, ditambah bahan limbah organik lain (abu, sekam, dolomit, sersah tanaman) agar kelembaban bahan organik dengan kadar air 40%. Sedangkan bila kondisi kotoran ternak kering bisa meggunakan decomposer cair yang dilarutkan pada air kemudian disiramkan sekaligus untuk tujuan mengatur kelembaban dengan kadar air 40%.
Teknologi pembuatan pupuk organik dari limbah kandang atau kotoran ternak juga telah banyak dihasilkan dengan berbagai cara pengolahan. Berikut cara pengolahan pupuk organik dari bahan organik kotoran atau limbah kandang ternak kambing.
PEMBUATAN PUPUK ORGANIK PADAT DARI KOTORAN KAMBING
BAHAN :
· 1 ton kotoran kambing
· 200 kg kapur pertanian (Dolomit)
· 200 kg abu sekam
· 4 kg primadec (decomposer)
· 6 kg pupuk SP-36
Alat :
· Cangkul
· Terpal
· Ember
Tahapan pembuatan Pupuk Organik Padat (POP) Kotoran Kambing
Siapkan tempat atau hamparan yang ternaungi dan jika hujan tempat tersebut tidak tergenang air.
Lakukan proses pencampuran bahan, agar mudah dan merata bisa dilakukan dengan cara membuat lapisan-lapisan.
Pembuatan lapisan dengan cara menghamparkan kotoran kambing dan sersah bahan organik lain setebal kurang lebih 30 cm dan taburkan dolomit, abu dan decomposer secukupnya.
Kemudian siapkan pupuk SP-36 secukupnya dari dosis yang ditetapkan yang dilarutkan dalam air kemudian disirampkan pada lapisan tersebut hingga kadar air mencapai 40%. Atau bisa diukur dengan cara diremas dengan tangan air tidak meneteskan atau bahan organik tidak pecah saat genggaman tangan dibuka.
Buat lapisan berikutnya hingga semua bahan habis, kemudian lapisan tersebut dicangkul dari salah satu sisi searah hingga menimbulkan timbunan baru.
Lakukan lagi kearah kebalikannya, kemudian ditimbun atau dibuat gunungan sebesar lebar terpal penutup.
Timbunan ditutup rapat dengan terpal dan bagian pinggir terpal diberi beban sehingga jika ada angin terpal tidak terbuka.
Diamkan selama 1 minggu, setelah satu minggu terpal dibuka dan timbunan diaduk untuk tujuan pemberian airasi pada proses pengomposan. Proses pengomposan yang berhasil akan timbul panas dan dapat dirasakan saat pembongkaran gundukan.
Cara aplikasi pada tanaman :
Aplikasi pupuk organik untuk tanaman musiman dapat dilakukan bersamaan saat pengolahan lahan, Pemupukan pada tanaman tahunan, sebaiknya dibenam pada bagian ujung perakaran, dan setiap tanaman umumnya memiliki ujung perakaran berada tepat dibawah daun paling ujung dari tanaman tersebut. Semakin banyak pupuk organik diberikan semakin meningkat kesuburan tahan.
Cara Membuat Pupuk Organik Padat dari Kotoran Kambing
Dalam bahasa bugis disebut tai bembe' sedang dalam bahasa Indonesia disebut kotoran kambing. Nah, inilah cara memamfaatkan kotoran-kotoran tersebut. Pengolahan bahan organik/limbah kandang biasanya melihat kondisi kandungan air pada kotoran ternak, jika kotoran ternak pada kondisi basah bahan decomposer sebaiknya menggunakan decomposer padat/tepung, ditambah bahan limbah organik lain (abu, sekam, dolomit, sersah tanaman) agar kelembaban bahan organik dengan kadar air 40%. Sedangkan bila kondisi kotoran ternak kering bisa meggunakan decomposer cair yang dilarutkan pada air kemudian disiramkan sekaligus untuk tujuan mengatur kelembaban dengan kadar air 40%.
Teknologi pembuatan pupuk organik dari limbah kandang atau kotoran ternak juga telah banyak dihasilkan dengan berbagai cara pengolahan. Berikut cara pengolahan pupuk organik dari bahan organik kotoran atau limbah kandang ternak kambing.
PEMBUATAN PUPUK ORGANIK PADAT DARI KOTORAN KAMBING
BAHAN :
· 1 ton kotoran kambing
· 200 kg kapur pertanian (Dolomit)
· 200 kg abu sekam
· 4 kg primadec (decomposer)
· 6 kg pupuk SP-36
Alat :
· Cangkul
· Terpal
· Ember
Tahapan pembuatan Pupuk Organik Padat (POP) Kotoran Kambing
Siapkan tempat atau hamparan yang ternaungi dan jika hujan tempat tersebut tidak tergenang air.
Lakukan proses pencampuran bahan, agar mudah dan merata bisa dilakukan dengan cara membuat lapisan-lapisan.
Pembuatan lapisan dengan cara menghamparkan kotoran kambing dan sersah bahan organik lain setebal kurang lebih 30 cm dan taburkan dolomit, abu dan decomposer secukupnya.
Kemudian siapkan pupuk SP-36 secukupnya dari dosis yang ditetapkan yang dilarutkan dalam air kemudian disirampkan pada lapisan tersebut hingga kadar air mencapai 40%. Atau bisa diukur dengan cara diremas dengan tangan air tidak meneteskan atau bahan organik tidak pecah saat genggaman tangan dibuka.
Buat lapisan berikutnya hingga semua bahan habis, kemudian lapisan tersebut dicangkul dari salah satu sisi searah hingga menimbulkan timbunan baru.
Lakukan lagi kearah kebalikannya, kemudian ditimbun atau dibuat gunungan sebesar lebar terpal penutup.
Timbunan ditutup rapat dengan terpal dan bagian pinggir terpal diberi beban sehingga jika ada angin terpal tidak terbuka.
Diamkan selama 1 minggu, setelah satu minggu terpal dibuka dan timbunan diaduk untuk tujuan pemberian airasi pada proses pengomposan. Proses pengomposan yang berhasil akan timbul panas dan dapat dirasakan saat pembongkaran gundukan.
Cara aplikasi pada tanaman :
Aplikasi pupuk organik untuk tanaman musiman dapat dilakukan bersamaan saat pengolahan lahan, Pemupukan pada tanaman tahunan, sebaiknya dibenam pada bagian ujung perakaran, dan setiap tanaman umumnya memiliki ujung perakaran berada tepat dibawah daun paling ujung dari tanaman tersebut. Semakin banyak pupuk organik diberikan semakin meningkat kesuburan tahan.
NEMATODA PARASITIK PADA PEMBIBITAN TANAMAN KAKAO
Wednesday, 05 October 2011 06:36 |
Ambon, Nematoda parasit seperti spesies Dolichodorus dan Meloidogyne, khususnya M. incognita dan M. javanica dapat menimbulkan kerugian pada tanaman kakao seperti mengurangi hasil panen, menghambat pertumbuhan bibit dan dapat mengakibatkan tanaman mati mendadak. Banyak nematoda parasit yang berasosiasi dengan tanaman kakao seperti Criconemella, Dolichodorus, Helicotylenchus, Heterodera, Hoplolaimus, Meloidogyne, Pratylenchus, Rodopholus dan lain sebagainya, namun beberapa nematoda parasit tersebut belum jelas hubungan patogeniknya.
Nematoda parasit
Meloidogyne spp. merupakan nematoda parasit yang terpenting pada tanaman kakao karena sifat patogenitasnya dan distribusinya luas di daerah produksi kakao. Meloidogyne telah diketahui terdapat pada tanaman kakao sejak tahun 1900. Spesies nematoda Meloidogyne yang menyerang tanaman kakao diantaranya yaitu : Meloidogyne incognita, M. exigua, M. javanica, M. arenaria dan M. thamesi. Namun, M. incognita merupakan nematoda yang paling sering ditemukan pada tanaman kakao.
Gejala kerusakan
Berdasarkan Luc et al, (1995) bahwa hasil simulasi di laboratorium nematoda parasit M. incognita yang ditularkan pada bibit tanaman kakao menimbulkan gejala mati ujung, kerdil, layu, daun-daun menguning dan ukuran daun kecil. Gejala serangan pada akar menimbulkan puru-puru kecil dan nampak nematoda betina dengan massa telurnya. Di lahan pembibitan di lapangan, serangan M. incognita menimbulkan gejala puru akar dengan massa telur nematoda parasit berada pada permukaan akar, terjadi mati ujung dan pada kerusakan yang parah tanaman akan mati dengan tiba-tiba. Menurut Sharma dan Sher (1973) dalam Luc et al., (1995) apabila terjadi keadaan yang menimbulkan mati ujung, maka tanaman akan mati sampai ke akar-akarnya, tetapi jika tanaman tersebut masih mentolelir serangan nematoda ini maka tanaman akan bertunas kembali pada musim tumbuh berikutnya sehingga bagian tanaman yang mati dapat dipangkas. Serangan M. javanica juga membentuk puru akar pada pembibitan tanaman kakao. Pada pembibitan tanaman kakao di lapangan, serangan nematoda ini mengakibatkan tanaman kakao lambat dalam pertumbuhannya, bahkan dapat mematikan bibit tanaman kakao tersebut. Gejala serangan yang serupa juga dapat dilihat pada pembibitan tanaman kakao yang terserang oleh M. exigua. Pemindahan bibit tanaman kakao yang terserang/terinfeksi oleh nematoda parasit berarti memindahkan nematoda parasit ke tempat lain.
Tanah pada pembibitan yang terifestasi nematoda parasit akan menyebabkan tanaman pada pembibitan terinfestasi juga, sehingga dapat menjadi salah satu media penyebar nematoda parasit ke tempat lain. Selain itu, aliran air permukaan dapat juga menyebarkan nematoda parasit. Meskipun data-data mengenai kehilangan hasil tanaman kakao yang terserang nematoda parasit belum ada, tetapi bukti menunjukkan adanya gejala serangan pada pembibitan tanaman kakao oleh nematoda parasit seperti yang telah disebutkan diatas. Luasnya distribusi nematoda parasit di banyak daerah sentra produksi kakao dapat menghambat produktivitas dan menimbulkan dampak ekonomi pada daerah tersebut.
Serangan nematoda parasit Pratylenchus brachyurus dan Pratylenchus coffeae yang menginfeksi akar tanaman kakao mengakibatkan terjadinya luka pada akar tanaman. Sedangkan gejala serangan akibat nematoda parasit Dolichodorus sp. mengakibatkan mati ujung dan kematian bibit pada pembibitan tanaman kakao. Akibat serangan nematoda Dolichodorus sp. menyebabkan seluruh sistem perakaran tanaman kakao berkurang, menjadi hitam dan tampak adanya disintegrasi pada korteks dan terbentuk puru seperti manik-manik. Bagian akar yang berpuru berwarna coklat-merah dan keras. Untuk mendiagnosis serangan nematoda parasit dilakukan dengan pengambilan sampel tanah dan akar, kemudian dilakukan ekstraksi untuk mengetahui keberadaan nematoda parasit yang menyerang tanaman tersebut.
Pengendalian
Tindakan pengendalian yang digunakan untuk mengendalikan serangan nematoda parasit adalah sebagai berikut ;
1. Membuat bibit yang bebas dari nematoda parasit utama;
2. Menanam pada tanah atau areal yang bebas dari nematoda parasit;
3. Tanah yang digunakan untuk pembibitan harus disterilkan dengan metil bromida dengan dosis 196 cm3 tiap 1 m3 tanah atau dikumpulkan dari area yang tidak terinfestasi oleh nematoda parasit;
4. Cara lain adalah dengan perlakuan menggunakan udara panas untuk sterilisasi hingga suhu mencapai 1000C selama satu jam. Lahan yang akan ditanami tanaman kakao harus disurvei berkaitan dengan kehadiran nematoda parasit sebelum penanaman bibit yang bebas dari infeksi nematoda. Pada perkebunan yang telah terinfestasi, maka menggunakan nematisida untuk pengendaliannya;
5. Dalam memilih tanaman penaung harus lebih berhati-hati, hindari penggunaan tanaman penaung yang rentan terhadap nematoda puru akar ataupun nematoda luka akar, misalnya tanaman pisang.
Dengan mengetahui bahaya dari serangan nematoda parasit pada pembibitan tanaman kakao yang pada serangan parah dapat mengakibatkan kematian tanaman, sehingga kita lebih mengenali gejala serangannya sejak dini untuk untuk segera melakukan tindakan pengendalian guna meminimalisir kerugian yang ditimbulkannya.
Ekologi Tumbuhan
Konsep Ekologi Tumbuhan
Ekologi merupakan gabungan dari dua kata dalam Bahasa Yunani yaitu oikos berarti rumah dan logos berarti ilmu atau pelajaran. Secara etimologis ekologi berarti ilmu tentang makhluk hidup dan rumah tangganya. Dengan kata lain defenisi dari ekologi ialah ilmu yang mempelajari hubungan timbal balik antara makhluk hidup dengan lingkungannya. Berdasarkan defenisi di atas maka yang dimaksud dengan Ekologi tumbuhan adalah ilmu yang mempelajari hubungan timbal balik antara tumbuhan (tumbuhan yang dibudidayakan) dengan lingkungannya. Lingkungan hidup tumbuhan dibagi atas dua kelompok yaitu lingkungan biotik dan abiotik.
Batasan Ekologi Tumbuhan
Ekologi tumbuhan adalah ilmu yang mempelajari hubungan timbal balik antara tumbuhan dengan lingkungannya. Tumbuhan membutuhkan sumberdaya kehidupan dari lingkungannya, dan mempengaruhi lingkungan begitu juga sebaliknya lingkungan mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan tumbuhan. Ekologi dibagi atas dua bagian yaitu Sinekologi dan Autekologi. Ekologi dibagi atas dua kelompok yaitu autekologi, dan sinekologi. Autekologi ialah ilmu yang mempelajari hubungan antara satu individu atau satu spesies dengan alam lingkunganya. Sinekologi ialah ilmu yang mempelajari hubungan antara beberapa grup individu yang berasosiasi bersama-sama sebagai satu unit dengan alam lingkungannya.
Tujuan dan Manfaat Ekologi Tumbuhan
Tujuan utama mempelajari ekologi tumbuhan adalah memperoleh hasil yang optimal dari teknik budidaya yang dilakukan dan menjaga lingkungan agar terhindar dari kerusakan sebagai warisan untuk anak cucu kita. Lingkungan akan mempengaruhi jenis tumbuhan yang sesuai untuk dibudidayakan pada kawasan, penjadwalan dan teknik budidaya yang digunakan. Oleh karenanya pengetahuan tentang lingkungan sangat penting artinya bagi sektor pertanian. Kebijakan mengenai pemeliharaan lingkungan di satu sisi dan peningkatan produksi di sisi lainnya akan sangat tergantung bagaimana pemahaman mengenai lingkungan. Pengurangan penggunaan bahan kimia dalam aktivitas budidaya untuk mencegah terjadinya degradasi lingkungan menjadikan pengetahuan ekologi tumbuhan semakin penting dalam merancang bangun sistem budidaya pertanian. Pemanfaatan sumber daya lingkungan secara optimal dengan dampak seminimum mungkin merupakan sistem pertanian yang menjadi idaman.
Tumpang sari adalah suatu bentuk pertanaman campuran (polyculture) berupa pelibatan dua jenis atau lebih tanaman pada satu areal lahan tanam dalam waktu yang bersamaan atau agak bersamaan. Tumpang sari yang umum dilakukan adalah penanaman dalam waktu yang hampir bersamaan untuk dua jenis tanaman budidaya yang sama, seperti jagung dan kedelai, atau jagung dan kacang tanah. Dalam kepustakaan, hal ini dikenal sebagai double-cropping. Penanaman yang dilakukan segera setelah tanaman pertama dipanen (seperti jagung dan kedelai atau jagung dan kacang panjang) dikenal sebagai tumpang gilir.
Tumpang sari dapat pula dilakukan pada pertanaman tunggal (monokultur) suatu tanaman perkebunan besar atau tanaman kehutanan sewaktu tanaman pokok masih kecil atau belum produktif. Hal ini dikenal sebagai tumpang sela (intercropping). Jagung atau kedelai biasanya adalah tanaman sela yang dipilih. Dalam kehutanan hal ini disebut sebagai wana tani. Suatu konsep serupa juga diterapkan bagi budidaya padi dan ikan air tawar yang dikenal sebagai mina tani.
Pola penanaman tumpang sari dapat memaksimalkan lahan dibandingkan pola monokultur karena:
Hasil panen pada lahan tidak luas bisa beberapa kali dengan usia panen dan jenis tanaman berbeda,
petani mendapat hasil jual yang saling menguntungkan atau menggantikan dari tiap jenis tanaman berbeda dan,
resiko kerugian dapat ditekan karena terbagi pada setiap tanaman.
Penggunaan pupuk majemuk dalam tumpang sari lebih menguntungkan karena:
lebih murah dibandingkan dengan pupuk tunggal dan,
pemakaiannya sekali.
Namun sistem teknologi model tersebut masih sedikit orang yang melaksanakannya.
TANAMAN SENGON LAUT
Tanaman Sengon dapat tumbuh baik pada tanah regosol, aluvial, dan latosol yang bertekstur lempung berpasir atau lempung berdebu dengan keasaman tanah sekitar pH 6-7.
• Iklim
Add caption
Ketinggian tempat yang optimal untuk tanaman sengon antara 0 – 800 m dpl. Walapun demikian tanaman sengon ini masih dapat tumbuh sampai ketinggian 1500 m di atas permukaan laut. Sengon termasuk jenis tanaman tropis, sehingga untuk tumbuhnya memerlukan suhu sekitar 18 ° – 27 °C.
Curah Hujan
Curah hujan mempunyai beberapa fungsi untuk tanaman, diantaranya sebagai pelarut zat nutrisi, pembentuk gula dan pati, sarana transpor hara dalam tanaman, pertumbuhan sel dan pembentukan enzim, dan menjaga stabilitas suhu. Tanaman sengon membutuhkan batas curah hujan minimum yang sesuai, yaitu 15 hari hujan dalam 4 bulan terkering, namun juga tidak terlalu basah, dan memiliki curah hujan tahunan yang berkisar antara 2000 – 4000 mm.
• Kelembaban
Kelembaban juga mempengaruhi setiap tanaman. Reaksi setiap tanaman terhadap kelembaban tergantung pada jenis tanaman itu sendiri. Tanaman sengon membutuhkan kelembaban sekitar 50%-75%.
• Fungsi dan kegunaan sengon laut
1. Daun
Daun Sengon, sebagaimana famili Mimosaceae lainnya merupakan pakan ternak yang sangat baik dan mengandung protein tinggi. Jenis ternak seperti sapi, kerbau, dll
2. Kayu
Bagian yang memberikan manfaat yang paling besar dari pohon sengon adalah batang kayunya. Dengan harga yang cukup menggiurkan saat ini sengon banyak diusahakan untuk berbagai keperluan dalam bentuk kayu olahan berupa papan papan dengan ukuran tertentu sebagai bahan baku pembuat peti, papan penyekat, pengecoran semen dalam kontruksi, industri korek api, pensil, papan partikel, bahan baku industri pulp kertas dll.
• Cara menanam sengon laut
Jarak tanam 2x3m atau 2,5x2,5m. ideal minim 3x3m, tapi perkebunan pada umumnya menggunakan jarak tanam yang direkomendasikan yaitu 4 x 5 m. Jarak tersebut dapat memaksimalkan pertumbuhan dan perkembangan.
Dikarenakan diameter batangnya,sebab radius lingkaran bayangan ke bawah batang atas pohon adalah wilayah penyerapan unsur-unsur hara ditanah oleh akar pohon. jadi jarak 4 x 5 m adalah yang paling baik bagi pertumbuhan pohon sengon laut.
Cara Tanam
Buka lubang Lebar.30 x Panjang.30 x dalam 30 cm. (untuk bibit 40-50 cm), lalu masukan Kompos+NPK 2,5 gr (campur) sebagai pupuk dasar diendapkan dilubang setinggi 30 cm (dapat langsung tanam/3-7 hr kemudian baru tanam),kemudian masukkan bibit yang polibagnya sudah dibuka/disobek kedalam,dudukan yang benar/rata,lalu isi tanah kompos sebagai penutup akar dengan tanah setinggi 20 cm (jangan terlalu dipadatkan),hingga tersisa lubang 10 cm sebagai kantong air. Akan memaksimalkan pertumbuhan dan perkembangan sengon laut.
• Pemeliharaan
1. Penyulaman
Penyulaman, yaitu penggantian tanaman yang mati atau sakit dengan tanaman yang baik, penyulaman pertama dilakukan sekitar 2-4 minggu setelah tanam, penyulaman kedua dilakukan pada waktu pemeliharaan tahun pertama (sebelum tanaman berumur 1 tahun). Agar pertumbuhan bibit sulaman tidak tertinggal dengan tanaman lain, maka dipilih bibit yang baik disertai pemeliharaan yang intensif.
2. Penyiangan,
Pada dasarnya kegiatan penyiangan dilakukan untuk membebaskan tanaman pokok dari tanaman pengganggu dengan cara membersihkan gulma yang tumbuh liar di sekeliling tanaman, agar kemampuan kerja akar dalam menyerap unsur hara dapat berjalan secara optimal. Disamping itu tindakan penyiangan juga dimaksudkan untuk mencegah datangnya hama dan penyakit yang biasanya menjadikan rumput atau gulma lain sebagai tempat persembunyiannya, sekaligus untuk memutus daur hidupnya.
Penyiangan dilakukan pada tahun-tahun permulaan sejak penanaman agar pertumbuhan tanaman sengon tidak kerdil atau terhambat, selanjutnya pada awal maupun akhir musim penghujan, karena pada waktu itu banyak gulma yang tumbuh
3. Pendangiran,
Pendangiran yaitu usaha mengemburkan tanah disekitar tanaman dengan maksud untuk memperbaiki struktur tanah yang berguna bagi pertumbuhan tanaman.
4. Pemangkasan,
Melakukan pemotongan cabang pohon yang tidak berguna (tergantung dari tujuan penanaman).
5. Penjarangan
Penjarangan dillakukan untuk memberikan ruang tumbuh yang lebih leluasa bagi tanaman sengon yang tinggal. Kegiatan ini dilakukan pada saat tanaman berumur 2 dan 4 tahun, Penjarangan pertama dilakukan sebesar 25 %, maka banyaknya pohon yang ditebang 332 pohon per hektar, sehingga tanaman yang tersisa sebanyak 1000 batang setiap hektarnya dan penjarangan kedua sebesar 40 % dari pohon yang ada ( 400 pohon/ha ) dan sisanya 600 pohon dalam setiap hektarnya merupakan tegakan sisa yang akan ditebang pada akhir daur.
Cara penjarangan dilakukan dengan menebang pohon-pohon sengon menurut sistem “untu walang” (gigi belakang) yaitu : dengan menebang selang satu pohon pada tiap barisan dan lajur penanaman.
Sesuai dengan daur tebang tanaman sengon yang direncanakan yaitu selama 5 tahun maka pemeliharaan pun dilakukan selama lima tahun. Jenis kegiatan pemeliharaan yang dilaksanakan disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan tanaman. Pemeliharaan tahun I sampai dengan tahun ke III kegiatan pemeliharaan yang dilaksanakan dapat berupa kegiatan penyulaman, penyiangan, pendangiran, pemupukan dan pemangkasan cabang. Pemeliharaan lanjutan berupa kegiatan penjarangan dengan maksud untuk memberikan ruang tumbuh kepada tanaman yang akan dipertahankan, presentasi dan frekuensi penjarangan disesuaikan dengan aturan standar teknis kehutanan yang ada.
• Analisa
1. Biaya Perawatan
Biaya Perawatan meliputi biaya pembersihan lahan dan pemberian pupuk serta pengendalian hama setiap 6 bulan sekali. Pekerjaan akan melibatkan tenaga kerja sebanyak 5 orang. Terdiri 1 (satu orang) pengawas dan 4 (empat) orang pekerja. Diperkirakan akan memakan waktu 7 hari kerja untuk setiap 1 hektar lahan. Proyeksi biaya perawatan selama 5 tahun adalah sebesar Rp. 9.000.000,-.
Perhitungan Biaya Perawatan :
Upah Tenaga Kerja per orang : Rp. 20.000 / hari
Jumlah Tenaga Kerja : 5 orang
Jumlah hari kerja : 7 hari
Jumlah Biaya per 6 bulan : Rp. 700.000,-
Jumlah Biaya 5 Tahun : Rp. 7.000.000,-
Kebutuhan Pupuk : Rp. 2.000.000,-
Jumlah Biaya Perawatan : Rp. 9.000.000,-
2. Biaya Penyulaman
Biaya penyulaman adalah estimasi atas kemungkinan tanaman yang kurang sehat atau mati. Apabila perkiraan tanaman yang mati sebesar 25% dari total 4.000 tanaman. Maka jumlah penyulaman sebanyak 1.000 tanaman. Apabila biaya perawatan dan biaya bibit per batang adalah sebesar Rp. 5.250,-, [(Rp. 12.000.000 + Rp. 9.000.000) : 4.000 batang)] maka biaya penyulaman diperkirakan akan menyerap dana sekitar Rp. 5.250.000,-
Kebutuhan Dana Investasi Kayu Sengon
Perhitungan Biaya :
Pembelian Bibit Rp. 8.000.000,-
Ongkos Tanam Rp. 4.000.000,-
Biaya Perawaran Rp. 9.000.000,-
Biaya Penyulaman 20% est Rp. 5.250.000,-
Lain-lain Rp. 2.000.000,-
Total Biaya Rp. 28.250.000,-
3. Pemasaran
Pemasaran kayu sengon relatif lebih mudah, karena kayu sengon merupakan jenis kayu yang tingkat konsumsinya tinggi. Kebutuhan kayu sengon disamping untuk dijual sebagai kayu papan dapat pula digunakan sebagai kayu kaso, palet, bahan pembuat peti dan lain sebagainya. Ranting kayu sengon dapat pula dijual sebagai kayu bakar dan bahan baku pembuatan kertas (pulp). Pemasaran sengon di wilayah Jonggol biasanya dilakukan oleh tengkulak atau langsung dijual ke pabrik pemotongan kayu (sawmill). Harga pasar kayu beragam, saat ini harga satu batang pohon sengon usia tanam 5 tahun dapat dijual seharga Rp. 300.000 – Rp. 500.000,-. Sedangkan jika sudah dibuat papan atau balok dapat dijual seharga Rp. 1.000.000 – 1.200.000,- per m3.
4. Perhitungan Hasil Investasi
Jumlah tanaman per hektar lahan adalah sebanyak 4.000 batang dan prediksi susut sebesar 25% atau sejumlah 1.000 batang, maka setiap hektar lahan akan menghasilkan kayu yang dapat dipanen sebanyak 3.000 batang.
Apabila dijual kepada tengkulak (tebang ditempat) tanpa mengeluarkan ongkos tebang dan ongkos angkut sebatang pohon dapat dijual seharga Rp. 500.000,- (harga saat ini), sehingga perhitungannya menjadi sebagai berikut :
3.000 batang x Rp. 300.000,- = Rp. 900.000.000
Jadi selama 5 tahun masa tanam akan menghasilkan 3.000 batang kayu sengon per hektar lahan. Apabila diambil harga jual termurah yaitu sebesar Rp. 300.000,- per m3, maka hasil investasi kayu sengon selama 5 tahun adalah sebesar Rp. 900.000.000,- .
Hasil perhitungan tersebut berdasarkan estimasi terendah. Sebagai informasi, harga pasaran kayu sengon saat ini per batang dengan usia tanam 4 tahun adalah sebesar Rp. 500.000,-.
Disamping itu investor dapat memilih untuk menjual kayu dengan cara jual di tempat, yaitu dijual gelondongan tanpa biaya angkut dengan harga jual sebesar Rp. 300.000,- atau menjual kayu olahan dengan tambahan biaya angkut dan biaya pengolahan.
Kayu sengon olahan dapat dipasarkan dengan harga Rp. 1.000.000,- sampai dengan Rp. 1.200.000,- per m3. Biaya pengolahan kayu (menurut informasi penduduk setempat) adalah setiap 3 m3 kayu gelondongan akan menjadi 2 m3 kayu olahan. Jumlah ini bersih yang akan diterima untuk pemilik kayu.
Pemupukan adalah bagian sangat penting dalam proses budidaya perkebunan Sengon. Meskipun tanpa pemupukan kita masih bisa panen Sengon pada umur 5-7 tahun. Pemupukan penting sebenarnya dalam konteks menyehatkan tanaman, memberi suplay gizi yang baik, dengan begitu tanaman menjadi sehat.
Kapan kita memulai pemupukan? Ada dua pendapat yang berbeda tetapi keduanya mengandung kebenaran. Yang berbeda adalah tingkat keekonomisannya.
Pendapat pertama, lakukan pemupukan sejak menyiapkan lubang tanam dengan memberi pupuk kandang atau kompos. Pendapat kedua, saat proses penanaman tidak perlu diberi pupuk kandang, akan tetapi dua bulan setelah tanam, persisnya menjelang akhir musim hujan lakukan pemupukan dengan pupuk NPK.
Kedua pendapat ini semuanya benar. Karena perlakuan kedua model ini akan menghasilkan tanaman yang sehat dan kuat. Yang menjadi masalah adalah sejauh mana tingkat keekonomiannya? Metode pertama, jelas bakal memakan biaya banyak. Bayangkan kalau per lubang perlu diberi 1 Kg pupuk kandang, itu berarti dalam 1 ha perlu sekitar 3 ton pupuk kandang. Sementara pada metode kedua, tidak ada ongkos awal yang lebih besar.
Apalagi, beberapa riset yang dilakukan oleh Litbang Departemen Kehutanan menyebutkan memberi pupuk kandang pada saat penanaman Sengon berpotensi besar memicu berkembangnya hama uret.
Karena prinsip investasi Sengon adalah investasi murah, saya menyarankan agar anda menggunakan metode kedua, hanya memberi pupuk NPK setelah dua bulan ditanam.
Yang lebih penting dari proses pemupukan adalah kontinuitasnya. Gunakan sistem Intensifikasi Tinggi dalam pemeliharaan Sengon. Lakukan pemupukan dengan NPK bersubsidi (berwarna merah bata) bukan NPK pelangi, tiga bulan sekali. tetapi bagi pemodal kuat akan lebih yahud lagi dengan menggunakan NPK Pelangi. Harga NPK bersubsidi Rp2.500 per Kg, sementara harga NPK Pelangi Rp10 ribu per Kg.
Pada musim hujan, pemupukan dengan menggunakan NPK saja. Akan tetapi pada musim kemarau bisa menggunakan dua cara. Pertama, mencairkan NPK kemudian disiramkan di bawah pohon Sengon. Kedua, lakukan pemupukan daun. Kedua perlakuan ini akan menghasilkan perkembangan yang sama.
Tanah Gersang
Kawan saya menanam Sengon di daerah Sentul. Di mana, tanah itu sudah 10 tahun lebih selalu ditanami Singkong. Hal ini menyebabkan kandungan unsur hara di tanah itu 0%.
Begitu Sengon ditanam, dalam sebulan tanaman Sengon itu sakit, batang menguning, daun rontok. Kita akan memperlakukan berbeda terhadap kasus seperti ini.
Langkah pertama adalah segera beri NPK sesuai aturan. Selang dua minggu setelah diberi NPK, beri pupuk kompos persis di tengah antara 2 pohon. Setelah itu secara rutin beri kompos sebulan sekali di dekat Sengon.
Intinya, dalam kasus ini tidak hanya perlu memberi pupuk lebih cepat, akan tetapi yang lebih penting adalah mengembalikan struktur tanah agar kaya akan kandungan humus.
Jadi, di tanah yang gersang saja Sengon bisa tumbuh dengan baik asal kita berhasil memberi perlakuan yang benar terhadap Sengon. Selamat mencoba.
*) Guntoro Soewarno, Pekebun Sengon tinggal di Purwakarta.
MUDAHNYA MEMBUAT PUPUK ORGANIK CAIR SENDIRI
Salam Pertanian! Kalau kita main ke kios-kios pertanian pasti kita akan banyak menemukan pupuk organik cair yang dijual. Demikian juga sekarang banyak sales-sales pupuk orgaik cair yang berkeliaran dimana-mana he he he...
Padahal dengan sangat mudah kita bisa membuat pupuk organik cair tersebut, sehingga kita tidak usah membeli dengan harga yang cukup mahal. Mau tahu caranya?
ALAT DAN BAHAN:
1. Drum/ jerigen
2. Cair: Urine/ limbah cucian ikan/ cucian daging dll
3. Padat: Kotoran sapi, kambing, unggas kalau perlu malah ditambah kotoran kita he he...
4. Hijauan: Tanaman Legume (gliricide, lamtoro, rumput wedusan dll) dan tanaman pakis-pakisan.
5. Tetes tebu/ gula pasir/ gula jawa
6. Buah-buahan busuk: pepaya, nangka, pisang, semangka dll
7. Bacteri pengurai: EM4, M bio, simba dll
8. Abu: Abu dapur, abu sekam dan abu daun bambu
CARA MEMBUAT:
1. Siapkan drum/ jerigen bersihkan jika kotor.
2. Masukkan semua bahan, komposisi bahan sebaiknya cair 70 % dan padat 30 %.
3. Aduk-aduk lalu tutup rapat (karena proses ini menggunakan bacteri anaerob)
4. Tiap 3 hari sekali harus dibuka dan di aduk-aduk
5. Setelah 1 bulan pupuk organik cair siap digunakan (tanda-tanda jadi yaitu bau tidak menyengat dan warna cairan dan bahan hitam kecoklatan)
CARA MENGGUNAKAN:
1. Saring larutan menggunakan kain lalu semprotkan ketanaman dengan konsentrasi 1 gelas 200ml/ tangki semprot.
2. Ampasnya bisa dikeringkan dan gunakan sebagai pupuk organik padat
Semoga bermanfaat bagi pembangunan pertanian…..
Salam Pertanian
Amirullah, S.Pt (Penyuluh Pertanian Pertama)
BP4K Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan
Sumber : http://informasi-budidaya.blogspot.com/
Diposkan oleh MEDIA PENYULUHAN PERTANIAN pada pukul 22.36.
Cara menyemaikan benih jabon :
A. Pengecambahan benih
1. Sediakan media tempat kecambah (bak plastik) dan sungkup dari plastik
2. Media perkecambahan adalah
a. Campuran pasir halus dan tanah halus (1:1), disterilisasi dengan cara digoreng selama 2 jam. Untuk mendapatkan media pasir halus, pasir di ayak dengan ayakan berukuran mikro (ayakan nyamuk).
b. Campuran cocopeat (sabut kelapa yang sudah dicacah) dan arang sekaram (2:1). Keduanya dapat diperoleh/dibeli di toko-toko pertanian.
3. Sebelum benih ditabur, media disiram sampai jenuh. Bila perlu bak tabur ditutup dengan plastik transparan (sungkup).
4. Penaburan benih dapat dicampur dengan pasir halus agar penyebaran dalam bak kecambah merata. Perbandingan benih dengan pasir 2:1.
5. Biasanya benih mulai berkecambah setelah 7-15 hari setelah penaburan dan akan mulai merata setelah 30 hari.
6. Dalam satu bak kecambah ukuran 25 cm x 20 cm banyak biji yang ditabur cukup 1 sendok teh.
B. Pemeliharaan pada periode perkecambahan
1. Pemeliharaannya dilakukan dengan penyiraman. Setelah penyiraman pertama, penyiraman selanjutnya dilakukan setiap harinya (pagi dan sore) sampai minggu ke-10 / siap sapih ke polybag dengan ukuran bibit 5-10 cm dengan sprayer halus
2. Penyiraman menggunakan air biasa untuk setiap harinya dan menggunakan air biasa dicampur dengan fungisida DITHANE M-45 untuk setiap minggunya (1kali dalam semingggu). Untuk 1 liter air dicampur fungisida ¼ sendok Dithane M-45.
3. Media kecambah harus terkena cahaya matahari tetapi tidak secara langsung perlu naungan dari plastik / sungkup / rumah kaca. Kondisi SYARATmedia kecambah harus lembab dan basah jangan sampai kekeringan. YANG PALING PENTING.
4. Selanjutnya bibit dipindahkan ke polybag di persemaian.
5. Total waktu perkecambahan kurang lebih 1 bulan, total pemeliharaan setelah muncul kecambah 1,5 bulan hingga siap sapih. Jadi total waktu yang dibutuhkan untuk perkecambahan kurang lebih 2-3 bulan.
6. Bibit yang sudah dipindahkan ke polybag sangat cepat perkembangannya. 1 bulan bisa mencapai ukuran tinggi = 20-40 cm.
C. Penyapihan di persemaian
Penyapihan adalah pemindahan tanaman dari bak kecambah ke polybag. Kemudian polybag di tempatkan pada bedengan berukuran 5 m x 1 m yang ternaungi agar terlindung dari sinar matahari langsung dan hujan.
1. Penyapihan dilakukan ketika kecambah telah memiliki 2-3 pasang daun atau telah mencapai tinggi 2-3 cm (usia 1,5-2 bulan).
2. Media sapih yang digunakan harus mengandung banyak nutrisi untuk pertumbuhan tanaman yang kemudian ditempatkan dalam polybag
3. Media semai yang dipergunakan : ukuran polybag 10×15 cm.
4. Media bibit adalah
a. Media campuran pasir + tanah+ arang sekam (1:3:1) atau tanah + kompos (3:1).
b. Media campuran tanah (topsoil/permukaan), pasir dan pupuk kandang (7:2:1)
c. media campuran tanah, cocopeat, dan pasir (3:1:1), atau menggunakan campuran tanah dan arang sekam (1:1).
D. Pemeliharaan di bedeng sapih
1. Penyiraman secara rutin setiap hari menggunakan air biasa dan setiap minggu menggunakan air biasa dicampur dengan fungisida DITHANE M-45
2. Selain penyiraman dapat juga diberikan pemupukan yang dilakukan setelah bibit berumur 2 minggu dengan pupuk NPK cair (2-4gram/1liter air), atau dengan pupuk NPK padat 0,5 gram/bibit dengan jarak dari batang tanaman 3-5 cm (selebar tajuk tanaman).
3. Selain itu juga dapat dilakukan pemupukan dengan pupuk daun gandasil-D (dosis 1-2 gr untuk 1 liter air) setelah bibit berumur 3 bulan setelah penyapihan.
5. Pemberian penaungan tanaman dengan paranet dilakukan hingga bibit berumur ±4-5 bulan setelah penyapihan (tinggi ±30 cm). Ukuran paranet 30%, 40% ,50% atau 65%.
E. Penanaman di lapangan
Bibit siap tanam ketika batangnya cukup berkayu dengan tinggi 25-30 cm. Waktu penanaman dilakukan pada musim hujan dengan jarak tanam 3 m x3 m. Pemeliharaan di lapangan berupa pendangiran (penggemburan tanah), penyulaman (pada jabon yang mati), penyiangan (pembebasan dari rumput liar) dan pemupukan.
cara menANAM SENGON
Bagi pembudi daya sengon, sering muncul perdebatan soal jarak tanam. Jarak tanam berapa yang lebih menguntungkan? Apakah jarak tanam 1 m X 1 m, 2 m X 2 m atau 1 m X 3 m?
Pengertian jarak tanam itu kami jelaskan dalam bagan berikut;
1. Jarak tanam 1 m X 1m
A B
C D
Keterangan 1 : Jarak tanam pohon A ke B dan jaraktanam pohon A ke C = 1 meter.
2. Jarak tanam 2 m X 2 m
A B
C D
Keterangan 2 : Jarak tanam pohon A ke B dan jarak tanam pohon A ke C = 2 meter.
3. Jarak Tanam 1 m X 3 m
A B
C D
Keterangan 3 : Jarak tanam pohon A ke B dan C ke D = 3 meter, sementara jarak tanam pohon A ke C dan B ke D = 1 meter.
Persoalan jarak tanam sangat tergantung dari kekuatan investasi kita. Bagi pemodal kuat, yang mampu menggaji penggarap yang mengelola sengon per hektarenya, gunakan jarak tanam 1 m X 1 m. Karena pada intinya, makin rapat jarak tanam makin bagus, karena kayu menjadi tegak lurus.
Di beberapa Desa di Wonosobo atau di Kabupaten Cilacap dan Sekitarnya, sangkin semangatnya menanam sengon dan ingin mendapat tegakan yang optimal, mereka bahkan menanam dengan jarak tanam 60 Cm X 60 Cm. Untuk ukuran ini, penulis sangat tidak merekomendasi.
Ketika kita memutuskan untuk menanam pada jarak tanam 1 m X 1 m, maka penjarangan dilakukan selama 3 kali, pada tahun ke 2 sebesar 20% dipanen, tahun ke-3 dan tahun ke-4 masing-masing sebesar 20% juga.
Tapi bagi mereka yang kekuatan investasinya tidak besar, tanamlah dengan jarak 1m X 3 m. Tujuan dari jarak tanam ini adalah agar kita bisa menanam tumpang sari sebagai tanaman sela. Hasil dari tumpang sari inilah yang digunakan sebagai penghasilan/gaji penggarap, yang bisa mereka peroleh secara rutin.
Gambaran pola tanam ini adalah sebagai berikut;
Gambar 4:
A E B
C F D
Keterangan 4 : E dan F adalah tanaman Tumpang sari, sementara A, B
Artikel Pancasila Sebagai Paradigma Reformasi
Istilah paradigma pada mulanya dipakai dalam bidang filsafat ilmu pengetahuan. Menurut Thomas Kuhn, Orang yang pertama kali mengemukakan istilah tersebut menyatakan bahwa ilmu pada waktu tertentu didominasi oleh suatu paradigma. Paradigma adalah pandangan mendasar dari para ilmuwan tentang apa yang menjadi pokok persoalan suatu cabang ilmu pengetahuan. Dengan demikian, paradigma sebagai alat bantu para illmuwan dalam merumuskan apa yang harus dipelajari, apa yang harus dijawab, bagaimana seharusnya dalam menjawab dan aturan-aturan yang bagaimana yang harus dijalankan dalam mengetahui persoalan tersebut. Suatu paradigma mengandung sudut pandang, kerangka acuan yang harus dijalankan oleh ilmuwan yang mengikuti paradigma tersebut. Dengan suatu paradigma atau sudut pandang dan kerangka acuan tertentu, seorang ilmuwan dapat menjelaskan sekaligus menjawab suatu masalah dalam ilmu pengetahuan.
Istilah paradigma makin lama makin berkembang tidak hanya di bidang ilmu pengetahuan, tetapi pada bidang lain seperti bidang politik, hukum, sosial dan ekonomi. Paradigma kemudian berkembang dalam pengertian sebagai kerangka pikir, kerangka bertindak, acuan, orientasi, sumber, tolok ukur, parameter, arah dan tujuan. Sesuatu dijadikan paradigma berarti sesuatu itu dijadikan sebagai kerangka, acuan, tolok ukur, parameter, arah, dan tujuan dari sebuah kegiatan. Dengan demikian, paradigma menempati posisi tinggi dan penting dalam melaksanakan segala hal dalam kehidupan manusia.
1. Pancasila sebagai paradigma pembangunan
Pancasila sebagai paradigma, artinya nilai-nilai dasar pancasila secara normatif menjadi dasar, kerangka acuan, dan tolok ukur segenap aspek pembangunan nasional yang dijalankan di Indonesia. Hal ini sebagai konsekuensi atas pengakuan dan penerimaan bangsa Indonesia atas Pancasila sebagai dasar negara dan ideologi nasional. Hal ini sesuai dengan kenyataan objektif bahwa Pancasila adalah dasar negara Indonesia, sedangkan negara merupakan organisasi atau persekutuan hidup manusia maka tidak berlebihan apabila pancasila menjadi landasan dan tolok ukur penyelenggaraan bernegara termasuk dalam melaksanakan pembangunan.
Nilai-nilai dasar Pancasila itu dikembangkan atas dasar hakikat manusia. Hakikat manusia menurut Pancasila adalah makhluk monopluralis. Kodrat manusia yang monopluralis tersebut mempunyai ciri-ciri, antara lain:
a. susunan kodrat manusia terdiri atas jiwa dan raga
b. sifat kodrat manusia sebagai individu sekaligus sosial
c. kedudukan kodrat manusia sebagai makhluk pribadi dan makhluk tuhan.
Berdasarkan itu, pembangunan nasional diarahkan sebagai upaya meningkatkan harkat dan martabat manusia yang meliputi aspek jiwa, raga,pribadi, sosial, dan aspek ketuhanan. Secara singkat, pembangunan nasional sebagai upaya peningkatan manusia secara totalitas.
Pembangunan sosial harus mampu mengembangkan harkat dan martabat manusia secara keseluruhan. Oleh karena itu, pembangunan dilaksanakan di berbagai bidang yang mencakup seluruh aspek kehidupan manusia. Pembangunan, meliputi bidang politik, ekonomi, sosial budaya, dan pertahanan keamanan. Pancasila menjadi paradigma dalam pembangunan politik, ekonomi, sosial budaya, dan pertahanan keamanan.
a. Pancasila Sebagai Paradigma Pembangunan Politik
Manusia Indonesia selaku warga negara harus ditempatkan sebagai subjek atau pelaku politik bukan sekadar objek politik. Pancasila bertolak dari kodrat manusia maka pembangunan politik harus dapat meningkatkan harkat dan martabat manusia. Sistem politik Indonesia yang bertolak dari manusia sebagai subjek harus mampu menempatkan kekuasaan tertinggi pada rakyat. Kekuasaan adalah dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat. Sistem politik Indonesia yang sesuai pancasila sebagai paradigma adalah sistem politik demokrasi bukan otoriter
Berdasar hal itu, sistem politik Indonesia harus dikembangkan atas asas kerakyatan (sila IV Pancasila). Pengembangan selanjutnya adalah sistem politik didasarkan pada asas-asas moral daripada sila-sila pada pancasila. Oleh karena itu, secara berturut-turut sistem politik Indonesia dikembangkan atas moral ketuhanan, moral kemanusiaan, moral persatuan, moral kerakyatan, dan moral keadilan. Perilaku politik, baik dari warga negara maupun penyelenggara negara dikembangkan atas dasar moral tersebut sehingga menghasilkan perilaku politik yang santun dan bermoral.
b. Pancasila Sebagai Paradigma Pembangunan Ekonomi
Sesuai dengan paradigma pancasila dalam pembangunan ekonomi maka sistem dan pembangunan ekonomi berpijak pada nilai moral daripada pancasila. Secara khusus, sistem ekonomi harus mendasarkan pada dasar moralitas ketuhanan (sila I Pancasila) dan kemanusiaan ( sila II Pancasila). Sistem ekonomi yang mendasarkan pada moralitas dam humanistis akan menghasilkan sistem ekonomi yang berperikemanusiaan. Sistem ekonomi yang menghargai hakikat manusia, baik selaku makhluk individu, sosial, makhluk pribadi maupun makhluk tuhan. Sistem ekonomi yang berdasar pancasila berbeda dengan sistem ekonomi liberal yang hanya menguntungkan individu-individu tanpa perhatian pada manusia lain. Sistem ekonomi demikian juga berbeda dengan sistem ekonomi dalam sistem sosialis yang tidak mengakui kepemilikan individu.
Pancasila bertolak dari manusia sebagai totalitas dan manusia sebagai subjek. Oleh karena itu, sistem ekonomi harus dikembangkan menjadi sistem dan pembangunan ekonomi yang bertujuan pada kesejahteraan rakyat secara keseluruhan. Sistem ekonomi yang berdasar pancasila adalah sistem ekonomi kerakyatan yang berasaskan kekeluargaan. Sistem ekonomi Indonesia juga tidak dapat dipisahkan dari nilai-nilai moral kemanusiaan. Pembangunan ekonomi harus mampu menghindarkan diri dari bentuk-bentuk persaingan bebas, monopoli dan bentuk lainnya yang hanya akan menimbulkan penindasan, ketidakadilan, penderitaan, dan kesengsaraan warga negara.
c. Pancasila Sebagai Paradigma Pembangunan Sosial Budaya
Pancasila pada hakikatnya bersifat humanistik karena memang pancasila bertolak dari hakikat dan kedudukan kodrat manusia itu sendiri. Hal ini sebagaimana tertuang dalam sila Kemanusiaan yang adil dan beradab. Oleh karena itu,
pembangunan sosial budaya harus mampu meningkatkan harkat dan martabat manusia, yaitu menjadi manusia yang berbudaya dan beradab. Pembangunan sosial budaya yang menghasilkan manusia-manusia biadab, kejam, brutal dan bersifat anarkis jelas bertentangan dengan cita-cita menjadi manusia adil dan beradab. Manusia tidak cukup sebagai manusia secara fisik, tetapi harus mampu meningkatkan derajat kemanusiaannya. Manusia harus dapat mengembangkan dirinya dari tingkat homo menjadi human.
Berdasar sila persatuan Indonesia, pembangunan sosial budaya dikembangkan atas dasar penghargaan terhadap nilai sosial dan budaya-budaya yang beragam si seluruh wilayah Nusantara menuju pada tercapainya rasa persatuan sebagai bangsa. Perlu ada pengakuan dan penghargaan terhadap budaya dan kehidupan sosial berbagai kelompok bangsa Indonesia sehingga mereka merasa dihargai dan diterima sebagai warga bangsa. Dengan demikian, pembangunan sosial budaya tidak menciptakan kesenjangan, kecemburuan, diskriminasi, dan ketidakadilan sosial.
d. Pancasila Sebagai Paradigma Pembangunan Pertahanan Keamanan
Salah satu tujuan bernegara Indonesia adalah melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia. Hal ini mengandung makna bahwa tugas dan tanggung jawab tidak hanya oleh penyelenggara negara saja, tetapi juga rakyat Indonesia secara keseluruhan. Atas dasar tersebut, sistem pertahanan dan keamanan adalah mengikut sertakan seluruh komponen bangsa. Sistem pembangunan pertahanan dan keamanan Indonesia disebut sistem pertahanan dan keamanan rakyat semesta (sishankamrata).
Sistem pertahanan yang bersifat semesta melibatkan seluruh warga negara, wilayah, dan sumber daya nasional lainnya, serta dipersiapkan secara dini oleh pemerintah dan diselenggarakan secara total terpadu, terarah, dan berlanjut untuk menegakkan kedaulatan negara, keutuhan wilayah, dan keselamatan segenap bangsa dari segala ancaman. Penyelenggaraan sistem pertahanan semesta didasarkan pada kesadaran atas hak dan kewajiban warga negara, serta keyakinan pada kekuatan sendiri.
Sistem ini pada dasarnya sesuai dengan nilai-nilai pancasila, di mana pemerintahan dari rakyat (individu) memiliki hak dan kewajiban yang sama dalam masalah pertahanan negara dan bela negara. Pancasila sebagai paradigma
pembangunan pertahanan keamanan telah diterima bangsa Indonesia sebagaimana tertuang dalam UU No. 3 Tahun 2002 tentang pertahanan Negara. Dalam undang-undang tersebut dinyatakan bahwa pertahanan negara bertitik tolak pada falsafah dan pandangan hidup bangsa Indonesia untuk menjamin keutuhan dan tetap tegaknya Negara Kesatuan Republik Indonesia yang berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945.
Beberapa Istilah Dalam Perkebunan Kelapa Sawit
12 Mei 2013 by Habibie Arif | Leave a comment
Afdeling : Wilayah kerja suatu perusahaan yang meliputi areal seluas kurang lebih 1.000 ha (areal datar) atau 800 ha (areal berbukit).
Ajir : Pancang yang merupakan titik dimanan tanaman di tanam di lahan perkebunan.
Alat berat : alat-alat yang besar yang digunakan dalam pekerjaan land clearing seperti bulldozer dan excavator.
Ancak : Areal tertentu yang dikerjakan oleh seorang atau sekelompok pekerja dikebun kelapa sawit.
Angkong :Alat angkut material (TBS)berupa kereta sorong dengan satu roda dan memiliki dua kakipembantu yang terbuat dari pelat besi.
Bayfolan : pupuk daun yang digunakan untuk memupuk daun pada tanaman di pembibitan utama, kandungan utamanya adalah nitrogen.
Bedengan : tempat yang digunakan untuk pembibitan awal pada areal yang telah diratakan dengan ukuran lebar 1,2 meter dan panjangnya 20 meter untuk setiap bedengan mampu menampung bibit babybag sekitar 2000 pokok.
Bucket : bagian dari alat excavator (bagian ujungnya) yang berbetuk limas yang digunakan untuk menggali dan mengangkut tanah.
Chainsaw : gergaji mesin yang digunakan untuk menebang kayu.
Cicle weeding : lingkungan disekitar individu tanamaan yang dijaga agar selalu dalam keadaan bersih, hal itu bertujuan agar unsur hara (pupuk) yang diberikan pada tanaman dapat terserap dengan baik, selain itu juga ketika panen memudahkan dalam pemungutan brondolan.
Double Stage (pembibitan dua tahap) : kecambah ditanam dalam babybag di pre nursery dan paling lambat umur tiga bulan bibit dipindahkan ke largebag di main nursery .
Etiolasi: pertumbuhan tanaman yang memanjang (abnormal) karena bersaing mendapatkan sinar matahari.
Garuk piringan : kegiatan manual untuk membersihkan tumbuhan penggangu, sampah atau yang lainya dalam radius kurang lebih 2 meter dari pokok kelapa sawit.
Gawangan : tempat atau bagian di antara titik tanam, gawangan digunakan sebagai jalan akses untuk pengangkutan buah dan juga perawatan tanaman.
Gawangan mati : gawangan yang digunakan sebagai areal rumpukan. Disebut gaawangan mati karena tidak dapat digunakan sebagai jalan karena banyak rumpukan kayu dan semak.
Grapple : bagian dari alat excavator (bagian ujungnya) yang berbetuk seperti penjepit, seperti kepiting yang digunakan untuk menjapit dan merubuhkan kayu.
Helper : orang yang membantu operator excavator dalam mekakukan tugasnya, helper biasanya mengisikan bahan bakar, membawakan makanan, membuat pancang pembantu, bahkan menggantikan operator saat lelah.
Imas : Pekerjaan memotong rapat semak dan pohon yang berdiameter lebih kecil dari 7,5 cm dipermukaan tanah.
Jalan koleksi (collection Road) : jalan yang berfungsi sebagai sarana untuk mengangkut produksi Tandan Buah Segar dari Tempat Pemungutan Hasil, jalan ini terdapat diantara blok dan berhubungan dengan jalan utama.
Jalan kontrol (Control Road) : jalan yang terdapat di dalam setiap blok. Jalan kontrol berfungsi untuk memudahkan pengontrolan areal pada tiap blok dan sebagai batas pemisah antar blok tanaman.
Jalan utama (main road) : jalan yang menghubungkan antara satu afdeling dengan afdeling lainnya maupun dari afdeling ke pabrik serta menghubungkan langsung pabrik dengan jalan umum.
Kantor divisi : Kantor Wilayah kerja suatu perusahaan yang meliputi areal seluas kurang lebih 1.000 ha (areal datar) atau 800 ha (areal berbukit).
Karyawan Harian Lepas (KHL) : Karyawan yang digaji berdasarkan harian masuk kerja.
Karyawan Harian Tetap (KHT) : Karyawan yang digaji tetap setiap bulannya walaupun tidak masuk dengan alasan tertentu.
Kastrasi : Pembuangan bunga pada fase peralihan dari TBM menjadi TM. Tujuan kastrasi untuk memperpanjang fase vegetative sehingga pada saat tanaman mulai menghasilkan ,fisik tanaman sudah cukup kuat.
Kation : ion bermuatan positif seperti Ca+, Mg+, K+, Na+, H+, Al3+
Kecambah : benih kelapa sawit yang berasal dari pusat penelitian benih yang digunakan sebagai bibit pada perkebunan kelapa sawit. Kecambah diberi nama sesuai dari perusahaan atau tempat penelitiannya contoh Ppks, socfindo, lonsum dll.
Kohesi tanah : gaya tarik menarik antar molekul yang sama, salah satu aspek yang mempengaruhi daya kohesi adalah kerapatan dan jarak antar molekul dalam suatu benda, bila kerapatan semakin besar maka kohesi yang didapatkan semakin besar.
Konsolidasi : kegiatan mengisi kembali polybag dengan tanah, hal itu dikarenakan tanah yang telah terisi ke dalam polybag memadat.
Land Clearing : kegiatan pembukaan lahan meliputi kegiatan merintis, pembuatan blok dan jalan, serta perumpukan dan pembersihan lahan.
Main nursery : pembibitan utama, yaitu pembibitan dari umur 3 bulan sampai dipindahkan ke lapangan (umur 12 bulan).
Meothrin : insektisida dan akarisida golongan piethroid berspektrum luas dan juga beraktivitas sebagai akarisida. Meothrin 50 nEC bekerja sebagai racun kontak dan lambung berbentuk cairan berwarna putih bening yang dapat membentuk emulsi dalam air, efektif mengendalikan hama tanaman.
Pancang staking atau pancang jalur perumpukan kayu : pekerjaan mengukur dan memasang patok jalur perumpukan kayu.
Pengawas alat berat : orang yang bertugas mengawasi pekerjaan alat berat dalam merumpuk.
Plastisitas tanah : perbedaan batas cair dan batas plastisitas suatu tanah atau sering disebut dengan PI (plasticity Index). Yang mempengaruhi plastisitas tanah adalah batas cair dan batas plastic
Pre nursery : pembibitan awal, dimulai dari bibit kecambah sampai umur 3 bulan.
Premi : gaji atau bayaran yang diberikan setelah karyawan mencapai target kerja yang ditentukan, biasanya dihitung per satuan atau per jam (1 jam premi Rp5500).
Ratgon : merupakan rodentisida (racun) anti koagulan. Bentuknya seperti balok berwarna hijau. Ratgon dipasang di lubang-lubang pematang yang dihuni tikus.
Rintis : kegiatan membuka hutan dengan parang dengan lebar 2 m . jalan rintis digunakan sebagai dasar awal untuk pembuatan jalan utama, jalan koleksi maupun blok.
Seleksi bibit : kegiatan bertujuan untuk memisahkan bibit normal dan abnormal.
Sensus tanaman : kegiatan yang bertujuan untuk mengetahui jumlah tanaman yang mati, titik kosong, tanaman yang diserang berat hama.
Single Stage (pembibitan satu tahap) : kecambah langsung ditanam pada largebag sampai dengan siap tanam.
Spacing : kegiatan pengaturan jarak pada polybag yang telah diisi tanah di pembibitan main nursery.
Staking (Merumpuk) : (perun mekanis) yaitu kegiatan mendorong dan menimbun kayu hasil imasan dan tumbangan pada gawangan mati sejajar dengan baris tanaman dengan arah utara selatan.
Standar Operasional Prosedur (SOP) : standar atau dasar yang harus dipatuhi dalam perkebunan kelapa sawit.
Sumisansui : pipa yang digunakan untuk menyiram tanaman pada tahap pembibitan, pipa ini memiliki lubang kecil di setiap 10 cm yang jika ada air dengan tekanan tinggi akan menyemburkan air dalam bentuk uap.
Suntho : kompas yang berbentuk segi empat, penggunaannya adalah dengan diteropong dan memanfaatkan pancang sebagai patokan, di dalamnya terdapat angka derajat mulai dari 0 sampai 360.
Tali slink : tali yang terbuat dari kawat besi/ baja yang digunakan untuk mengukur atau membuat garis lurus, biasanya digunakan pada kegiatan pengaturan polybag pada main nursery dan juga pembuatan titik tanam.
Tanaman belum menghasilkan (TBM) : tanaman kelapa sawit yang berada pada umur mulai tanam hingga berumur kurang lebih 2,5 – 3 tahun.
Tiran : racun tikus yang dipasang ala tempos, obat dan alt untuk mengendalikan hama tikus dengan cara pengasapan pada lubang pematang yang dihuni tikus.
Topografi : adalah suatu bentuk dari dataran atau permukaan bumi, topografi berpengaruh terhadap budi daya kelapa sawit.
Transplanting : kegiatan menanam bibit dari pre nursery ke polybag di main nursery.
Weeding : Penyiangan yaitu kegiatan membersihkan gulma pada tanaman, bertujuan untuk mengurangi gulma yang dapat mengganggu penyerapan unsur hara tanaman.
Weeding atas : pembersihan gulma dibagian atas atau dipermukaan babybag.
Weeding bawah adalah pekerjaan membersihkan gulma di bawah babybag.
Zero burning : Merupakan teknik pembukaan lahan untuk penananaman kelapa sawit tanpa melalui proses pembakaran. Pembukaan lahan dilakukan dengan menggunakan alat berat seperti bulldozer dan excavator.
About these ads
Teknik Budidaya Sengon atau Albasia menggunakan Pupuk Organik NASA (Natural Nusantara)
Oleh admin langkahbisnis on 16 January 2013 Dilihat sebanyak : 6,173 Kali
•
•
•
•
langkah bisnis dot com : TeknikBudidaya Sengon atau Albasia menggunakan Pupuk OrganikNASA (Natural Nusantara).Teknik ini cukup bagus untukdipraktekkan bagi kalangan petani kayu sengon atau albasia. dari teknik ini kita dapatkan bagaimana caramenanam sampai memanen/menebang pohon albasia ini. semoga artikel ini bermanfaat. aminnn
Pendahuluan
Sengon dalam bahasa latin disebutAlbazia Falcataria, termasuk famili Mimosaceae, keluarga petai – petaian. Di Indonesia,sengon memiliki beberapa nama daerah seperti berikut :
Jawa :jeunjing, jeunjing laut (sunda), kalbi, sengon landi, sengonlaut, atau sengon sabrang (jawa),Maluku : seja (Ambon), sikat (Banda), tawa (Ternate), dan gosui (Tidore)Bagian terpentingyang mempunyai nilai ekonomi pada tanaman sengon adalah kayunya. Pohonnya dapat mencapai tinggi sekitar 30–45 meterdengan diameter batang sekitar 70 – 80 cm. Bentuk batang sengon bulat dan tidak berbanir. Kulit luarnya berwarna putih atau kelabu, tidak beralur dan tidak mengelupas. Berat jenis kayu rata-rata 0,33 dan termasuk kelas awet IV – V.Kayu sengon digunakanuntuk tiang bangunan rumah, papan peti kemas, peti kas, perabotan rumah tangga, pagar, tangkai dan kotak korek api, pulp, kertas dan lain-lainnya.Tajuk tanaman sengon berbentuk menyerupai payung dengan rimbun daun yang tidak terlalu lebat. Daun sengon tersusun majemuk menyirip ganda dengan anak daunnya kecil-kecil dan mudah rontok. Warna daun sengon hijau pupus, berfungsi untuk memasak makanan dan sekaligus sebagai penyerap nitrogen dan karbon dioksida dari udara bebas.
Sengon memiliki akar tunggang yang cukup kuat menembus kedalam tanah, akar rambutnya tidak terlalu besar, tidak rimbun dan tidak menonjol kepermukaan tanah. Akar rambutnya berfungsiuntuk menyimpan zat nitrogen, oleh karena itu tanah disekitar pohon sengon menjadi subur.
Dengan sifat-sifat kelebihan yangdimiliki sengon, maka banyak pohon sengonditanam ditepi kawasan yang mudah terkena erosi dan menjadi salah satu kebijakan pemerintah melalui DEPHUTBUNuntuk menggalakan ‘Sengonisasi’ di sekitar daerah aliran sungai (DAS) di Jawa, Bali dan Sumatra.
Bunga tanaman sengon tersusun dalam bentuk malai berukuran sekitar 0,5 – 1 cm, berwarna putih kekuning-kuningan dan sedikit berbulu. Setiap kuntum bunga mekar terdiri dari bunga jantan dan bunga betina, dengan cara penyerbukan yang dibantu oleh angin atau serangga.
Buah sengon berbentuk polong, pipih, tipis, dan panjangnya sekitar 6 – 12 cm. Setiap polong buah berisi 15 – 30 biji. Bentuk biji mirip perisai kecil dan jika sudah tua biji akan berwarna coklat kehitaman,agak keras, dan berlilin.
Habitat Sengon
Tanah
Tanaman Sengon dapat tumbuh baik pada tanah regosol, aluvial, dan latosol yang bertekstur lempung berpasir atau lempung berdebu dengan kemasaman tanah sekitar pH 6-7.
Iklim
Ketinggian tempat yang optimal untuk tanaman sengon antara 0 – 800 m dpl. Walapun demikian tanaman sengon ini masih dapattumbuh sampai ketinggian 1500 m di atas permukaan laut. Sengon termasuk jenis tanaman tropis, sehingga untuk tumbuhnya memerlukan suhu sekitar 18 ° – 27 °C.
Curah Hujan
Curah hujan mempunyai beberapa fungsi untuk tanaman, diantaranya sebagai pelarut zat nutrisi, pembentuk gula dan pati, sarana transpor hara dalam tanaman, pertumbuhan sel dan pembentukan enzim, dan menjaga stabilitas suhu. Tanaman sengon membutuhkan batas curah hujan minimum yang sesuai, yaitu 15 hari hujan dalam 4 bulan terkering, namun juga tidak terlalu basah, dan memiliki curah hujan tahunan yang berkisar antara 2000 – 4000 mm.
Kelembaban
Kelembaban juga mempengaruhi setiap tanaman. Reaksi setiap tanaman terhadap kelembaban tergantung pada jenis tanaman itu sendiri. Tanaman sengon membutuhkan kelembaban sekitar 50%-75%.
Keragaman Penggunaan dan Manfaat Kayu sengon
Pohon sengon merupakan pohon yang serba guna. Dari mulai daun hingga perakarannya dapat dimanfaatkan untuk beragam keperluan.
Daun
Daun Sengon, sebagaimana famili Mimosaceae lainnya merupakan pakan ternak yang sangat baik dan mengandung protein tinggi. Jenis ternak seperti sapi, kerbau, dfan kambingmenyukai daun sengon tersebut.
Perakaran
Sistem perakaran sengon banyak mengandung nodul akar sebagai hasil simbiosis dengan bakteri Rhizobium. Hal ini menguntungkan bagi akar dan sekitarnya. Keberadaan nodul akar dapat membantu porositas tanah dan openyediaan unsur nitrogen dalam tanah. Dengan demikian pohon sengon dapat membuat tanah disekitarnya menjadi lebih subur. Selanjutnya tanah ini dapat ditanami dengan tanaman palawija sehingga mampu meningkatkan pendapatan petani penggarapnya.
Kayu
B
agian yang memberikan manfaat yang paling besar dari pohon sengon adalah batang kayunya. Dengan harga yang cukup menggiurkan saat ini sengon banyak diusahakan untuk berbagai keperluan dalam bentuk kayu olahan berupa papan papan dengan ukuran tertentu sebagai bahan baku pembuat peti, papan penyekat, pengecoran semen dalam kontruksi, industri korek api, pensil, papan partikel, bahan baku industri pulp kertas dll.
Pembibitan Sengon
a) Benih
Pada umumnya tanaman sengon diperbanyak dengan bijinya. Biji sengon yang dijadikan benih harus terjamin mutunya. Benih yang baik adalah benih yang berasal dari induk tanaman sengon yang memiliki sifat-sifat genetik yang baik, bentuk fisiknya tegak lurus dan tegar, tidak menjadi inang dari hama ataupun penyakit. Ciri-ciri penampakan benih sengon yang baik sebagai berikut :
1. Kulit bersih berwarna coklat tua
2. Ukuran benih maksimum
3. Tenggelam dalam air ketika benih direndam, dan
4. Bentuk benih masih utuh.
Sel
ain penampakan visual tersebut, juga perlu diperhatikan dayatumbuh dan daya hidupnya, dengan memeriksa kondisi lembaga dan cadangan makanannya dengan mengupas benih tersebut. Jika lembaganya masih utuh dan cukup besar, maka daya tumbuhnya tinggi.
b) Kebutuhan Benih
Jumlah benih sengon yang dibutuhkan untuk luas lahan yang hendak ditanami dapat dihitung dengan menggunakan rumus perhitungan sederhana berikut :
Keterangan :
1. Luas kebun penanaman sengon 1 hektar (panjang= 100 m dan lebar= 100 m)
2. Jarak tanam 3 x 2 meter
3. Satu lubang satu benih sengon
4. Satu kilogram benih berisi 40.000 butir
1. Daya tumbuh 60 %
2. Tingkat kematian selama di persemaian 15 %
Dengan demikian jumlah benih = 100 / 3 x 100/2 x 1 = 1.667 butir. Namun dengan memperhitungkan daya tumbuh dan tingkat kematiannnya, maka secara matematis dibutuhkan 3.705 butir. Sedangkan operasionalnya, untuk kebun seluas satu hektar dengan jarak tanam 3 x 2 meter dibutuhkan benih sengon kira-kira 92,62 gram, atau dibulatkan menjadi 100 gram.
c) Perlakuan benih
Sehubungan dengan biji sengon memiliki kulit yang liat dan tebal serta segera berkecambah apabila dalam keadaan lembab, maka sebelum benih disemaikan , sebaiknya dilakukan treatment gunamembangun perkecambahan benih tersebut, yaitu : Benih direndam dalam air panas mendidih (80 C) selama 15 – 30 menit. Setelah itu, benih direndam kembali dalam air dingin sekitar 24 jam, lalu ditiriskan. untuk selanjutnya benih siap untuk disemaikan.
d) Pemilihan Lokasi Persemaian
Keberhasilan persemaian benih sengon ditentukan oleh ketepatan dalam pemilihan tempat. Oleh karena itu perlu diperhatikan beberapa persyaratan memilih tempat persemaian sebagai berikut :
1. Lokasi persemaian dipilih tempat yang datar atau dengan derajat kemiringan maksimum 5%
2. Diupayakan memilih lokasi yang memiliki sumber air yangmudah diperoleh sepanjang musim ( dekat dengan mata air, dekat sungai atau dekat persawahan).
3. Kondisi tanahnya gembur dan subur, tidak berbatu/kerikil, tidak mengandunh tanah liat.
4. Berdekatan dengan kebun penanaman dan jalan angkutan, guna menghindari kerusakan bibit pada waktu pengangkutan.
Untuk memenuhi kebutuhan bibit dalam jumlah besar perlu dibangun persemaian yang didukung dengan sarana dan prasarana pendukung yang memadai, antara lain bangunan persemaian, sarana dan prasarana pendukung, sarana produksi tanaman dll. Selain itu ditunjang dengan ilmu pengetahuan yang cukup diandalkan.
Langkah-Langkah Penyemaian Benih Sengon
Terlepas dari kegiatan pembangunan dan penyediaan sarana dan prasarana pendukung maka langkah-langkah penyemaian benih dapat dibagi benjadi tahap – tahap kegiatan sebagai berikut:
a) Penaburan
Kegiatan penaburan dilakukan dengan maksud untuk memperoleh prosentase kecambah yang maksimal dan menghasilkan kecambah yang sehat. Kualitas kecambah ini akan mendukung terhadap pertumbuhan bibit tanaman, kecambah yang baik akan menghasilkan bibit yang baik pula dan hal ini akan dapat membentuk tegakan yang berkualitas.
Bahan dan alat yang perlu diperhatikan dalam kegiatan penaburan adalah sebagai berikut :
* Benih
* Bedeng tabur/bedeng kecambah
* Media Tabur, campuran pasir dengan tanah 1 : 1
* Peralatan penyiraman
* Tersedianya air yang cukupdan sebagainya.
Teknik pelaksanaan, bedeng tabur dibuat dari bahan kayu/bambu dengan atap rumbia dengan ukuran bak tabur 5 x 1 m ukuran tinggi naungan depan 75 cm belakang 50 cm.. kemudian bedeng tabur disi dengan media tabur setebal 10 cm , usahakan agarmedia tabur ini bebas dari kotoran/sampah untuk menghindari timbulnya penyakit pada kecambah.
Penaburan benih pada media tabur dilakukan setelah benih mendapat perlakuan guna mempercepat proses berkecambah dan memperoleh prosen kecambah yang maksimal. Penaburaan dilakukan pada waktu pagi hari atau sore hari untuk menghindari terjadinya penguapan yang berlebihan.
Penaburan ini ditempatkan pada larikan yang sudah dibuat sebelumnya, ukuran larikan tabur ini berjara 5 cm antar larikan dengan kedalaman kira – kira 2,0 cm. Usahakan benih tidak saling tumpang tindih agar pertumbuhan kecambah tidak bertumpuk. Setelah kecambah berumur 7 – 10 hari maka kecambah siap untuk dilakukan penyapihan.
Penyapihan Bibit
Langkah-langkah kegiatan penyapihan bibit antara lain adalah :
* Siapkan kantong plastik ukuran 10 x 20 cm, dan dilubangikecil-kecil sekitar 2 – 4 lubang pada bagian sisi-sisinya.
* Masukkan media tanam yang berupa campuran tanah subur, pasir dan pupuk kandang (1:1:1). Jika tanah cukup gembur, jumlah pasir dikurangi.
* Setelah media tanam tercampur merata, kemudian dimasukkan ke dalam kantong plasitk setinggi ¾ bagian, barulah kecambah sengon ditanam, setiap kantong diberi satu batang kecambah.
* Kantong plastik yang telah berisi anakan, diletakkan dibawah para-para yang diberi atap jerami atau daun kelapa, agar tidak langsung tersengat terik matahari.
* Pada masa pertumbuhan anakan semai sampai pada saat kondisi bibit layak untuk ditanam di lapangan perlu dilakukan pemeliharaan secara intensif.
c) Pemeliharaan
Pemeliharaan yang dilakukan terhadap bibit dipersemaian adalah sebagai berikut :
Penyiraman
Penyiraman yang optimum akan memberikan pertumbuhan yang optimum pada semai / bibit. Penyiraman dilakukan pada pagi dan sore hari maupun siang hari dengan menggunakan nozle. Selanjutnya pada kondisi tertentu, penyiraman dapat dilakukan lebih banyak dari keadaan normal, yaitu pada saat bibit baru dipindah dari naungan ke areal terbuka dan hari yang panas.
Pemupukan
Pemupukan dilakukan dengan menggunakan larutan “gir”. Adapun pembuatan larutan “gir” adalah sebagai berikut :
* Siapkan drum bekas dan separuh volumenya diisi pupuk kandang.
* Tambahkan air sampai volumenya ¾ bagian.
* Tambahkan 15 kg TSP, lalu diaduk rata.
* Tambahkan 500 gr pupuk SUPERNASA.
* Biarkan selama seminggu dan setelah itu digunakan untuk pemupukan.
Dosis pemupukan sebanyak 2 sendok makan per 2 minggu, pada umur 6 bulan, ketika tingginya 70 – 125 cm, bibit siap dipindahkan ke kebun.
Penyulaman
Penyulaman dilakukan apabila bibit ada yang mati dan perlu dilakukan dengan segera agar bibit sulaman tidak tertinggal jauh dengan bibit lainnya.
Penyiangan
Penyiangan terhadap gulma, dilakukan dengan mencabut satu per satu dan bila perlu dibantu dengan alat pencungkil, namun dilakukan hati –hati agar jangan sampai akar bibit terganggu.
Pengendalian Hama dan Penyakit
Beberapa hama yang biasa menyerang bibit adalah semut, tikus rayap, dan cacing, sedangkan yang tergolong penyakit ialah kerusakan bibit yang disebabkan oleh cendawan.
Untuk mengatasi serangan cendawan atau jamur pada tanaman bibit sengon bisa diantisipasi pada saat awal pembenihan. Caranya dengan menggunakan GLIO. GLIO merupakan produkpengendali hama & penyakit tanaman dari PT. Natural Nusantara.
Natural GLIO mampu menghancurkan inokulum sumber infeksi penyakit tanaman, mencegah sumber infeksi penyakit menyebar kembali dengan kolonisasi tanah oleh Natural GLIO, mampu melindungi perkecambahan biji dan akar-akar tanaman dari sumber infeksi penyakit, aman terhadap lingkungan, manusia dan hewan, selaras dengan keseimbangan alam, mudah dan murah.
Natural GLIO bersifat Hiperparasit terhadap pathogen penyakit tanaman, sehingga terjadi persaingan tempat hidup dan nutrisi.Natural GLIO mengeluarkan zat antibiotik yaitu Gliovirin dan Viridin yang akan mematikan pathogen penyebab penyakit tanaman danNatural GLIO ini akan berkembang terus mengkolonisasi melindungi tanaman dari gangguan pathogen.
Petunjuk Aplikasi :
* 1 bungkus GLIO dicampur pupuk kandang/kompos 25-50 kg, diamkan kurang lebih 1 minggu dalam kondisi lembab, baru kemudian digunakan sebagai pupuk dasar.
* Untuk tanaman yang sudah terinfeksi penyakit, jika terjadi gejalaserangan pathogen, maka 1 bungkus GLIO dicampur pupuk kandang matang atau kompos 2-3 kg lalu diamkan kurang lebih 1 minggu baru digunakan. Dosis 2-3 sendok makan pada tanaman terserang.
Seleksi bibit
Kegiatan seleksi bibit merupakan kegiatan yang dilakukan sebelum bibit dimutasikan kelapangan, maksudnya yaitu mengelompokan bibit yang baik dari bibit yang kurang baik pertumbuhannya. Bibit yang baik merupakan prioritas pertama yang bisa dimutasikan kelapangan untuk ditanam sedangkan bibit yang kurang baik pertumbuhannya dilakukan pemeliharaan yang lebih intensip guna memacu pertumbuhan bibit sehingga diharapkan pada saat waktu tanam tiba kondisi bibit mempunyaikualitas yang merata.
Penyiapan Lahan
Penyiapan lahan pada prinsipnya membebaskan lahan dari tumbuhan pengganggu atau komponen lain dengan maksud untukmemberikan ruang tumbuh kepada tanaman yang akan dibudidayakan. Cara pelaksanaan penyipan lahan digolongkan menjadi 3 cara, yaitu cara mekanik, semi mekanik dan manual.Jenis kegiatannya terbagi menjadi dua tahap ;
Pembersihan lahan, yaitu berupa kegiatan penebasan terhadap semak belukar dan padang rumput. Selanjutnya ditumpuk pada tempat tertentu agar tidak mengganggu ruang tumbuh tanaman.
Pengolahan tanah, dimaksudkan untuk memperbaiki struktur tanah dengan cara mencanggkul atau membajak (sesuai dengan kebutuhan).
Penanaman
Jenis kegiatan yang dilakukan berupa :
* Pembuatan dan pemasangan ajir tanam : Ajir dapat dibuat dari bahan bambu atau kayu dengan ukuran, panjang 0,5 – 1 m, lebar 1 – 1,5 cm. Pemasangangan ajir dimaksudkan untuk memberikantanda dimana bibit harus ditanam, dengan demikian pemasangan ajir tersebut harus sesuai dengan jarak tanam yang digunakan.
* Pembuatan lobang tanam. Lobang tanam dibuat dengan ukuran 30 x 30 x 30 cm tepat pada ajir yang sudah terpasang.
* Pengangkutan bibit, ada dua macam pengangkutan bibit yaitu pengankuatan bibit dari lokasi persemaian ketempat penampungan bibit sementara di lapangan (lokasi penanaman), dan pengangkutan bibit dari tempat penampungan sementara ke tempat penanaman.
* Penanaman bibit, pelaksanaan kegiatan penanaman harus dilakukan secara hati – hati agar bibit tidak rusak dan penempatan bibit pada lobang tanam harus tepat ditengah-tengah serta akar bibit tidak terlipat, hal ini akan berpengaruh terhadap pertumbuhan bibit selanjutnya.
Pemeliharaan
Kegiatan pemeliharaan yang dilakukan berupa kegiatan :
* Penyulaman, yaitu penggantian tanaman yang mati atau sakit dengan tanaman yang baik, penyulaman pertama dilakukan sekitar 2-4 minggu setelah tanam, penyulaman kedua dilakukan pada waktu pemeliharaan tahun pertama (sebelum tanaman berumur 1 tahun). Agar pertumbuhan bibit sulaman tidak tertinggal dengan tanaman lain, maka dipilih bibit yang baik disertai pemeliharaan yang intensif.
* Penyiangan. Pada dasarnya kegiatan penyiangan dilakukan untuk membebaskan tanaman pokok dari tanaman penggagu dengancara membersihkan gulma yang tumbuh liar di sekeliling tanaman, agar kemampuan kerja akar dalam menyerap unsurhara dapat berjalan secara optimal. Disamping itu tindakan penyiangan juga dimaksudkan untuk mencegah datangnya hamadan penyakit yang biasanya menjadikan rumput atau gulma lain sebagai tempat persembunyiannya, sekaligus untuk memutus daur hidupnya. Penyiangan dilakukan pada tahun-tahunpermulaan sejak penanaman agar pertumbuhan tanaman sengon tidak kerdil atau terhambat, selanjutnya pada awal maupun akhir musim penghujan, karena pada waktu itu banyak gulma yang tumbuh.
* Pendangiran. Pendangiran yaitu usaha mengemburkan tanah disekitar tanaman dengan maksud untuk memperbaiki struktur tanah yang berguna bagi pertumbuhan tanman.
* Pemangkasan. Melakukan pemotongan cabang pohon yang tidak berguna (tergantung dari tujuan penanaman).
* Penjarangan. Penjarangan dillakukan untuk memberikan ruang tumbuh yang lebih leluasa bagi tanaman sengon yang tinggal. Kegiatan ini dilakukan pada saat tanaman berumur 2 dan 4 tahun, Penjarangan pertama dilakukan sebesar 25 %, maka banyaknya pohon yang ditebang 332 pohon per hektar, sehingga tanaman yang tersisa sebanyak 1000 batang setiap hektarnya dan penjarangan kedua sebesar 40 % dari pohon yang ada ( 400 pohon/ha ) dan sisanya 600 pohon dalam setiap hektarnya merupakan tegakan sisa yang akan ditebang pada akhir daur. Cara penjarangan dilakukan dengan menebang pohon-pohon sengon menurut sistem “untu walang” (gigi belakang) yaitu : dengan menebang selang satu pohon pada tiap barisan dan lajur penanaman.
Sesuai dengan daur tebang tanaman sengon yang direncanakan yaitu selama 5 tahun maka pemeliharaan pun dilakukan selama lima tahun. Jenis kegiatan pemeliharaan yang dilaksanakan disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan tanaman. Pemeliharaan tahun I sampai dengan tahun ke III kegiatan pemeliharaan yang dilaksanakan dapat berupa kegiatan penyulaman, penyiangan, pendangiran, pemupukan dan pemangkasan cabang. Pemeliharaan lanjutan berupa kegiatan penjarangan dengan maksud untuk memberikan ruang tumbuh kepada tanaman yang akan dipertahankan, presentasi dan prekuensi penjarangan disesuaikan dengan aturan standar tekniskehutanan yang ada.
Langganan:
Postingan (Atom)