Senin, 01 Juli 2013

pembuatan pupuk padat

Cara Membuat Pupuk Organik Padat dari Kotoran Kambing 3 Dalam bahasa bugis disebut tai bembe' sedang dalam bahasa Indonesia disebut kotoran kambing. Nah, inilah cara memamfaatkan kotoran-kotoran tersebut. Pengolahan bahan organik/limbah kandang biasanya melihat kondisi kandungan air pada kotoran ternak, jika kotoran ternak pada kondisi basah bahan decomposer sebaiknya menggunakan decomposer padat/tepung, ditambah bahan limbah organik lain (abu, sekam, dolomit, sersah tanaman) agar kelembaban bahan organik dengan kadar air 40%. Sedangkan bila kondisi kotoran ternak kering bisa meggunakan decomposer cair yang dilarutkan pada air kemudian disiramkan sekaligus untuk tujuan mengatur kelembaban dengan kadar air 40%. Teknologi pembuatan pupuk organik dari limbah kandang atau kotoran ternak juga telah banyak dihasilkan dengan berbagai cara pengolahan. Berikut cara pengolahan pupuk organik dari bahan organik kotoran atau limbah kandang ternak kambing. PEMBUATAN PUPUK ORGANIK PADAT DARI KOTORAN KAMBING BAHAN : · 1 ton kotoran kambing · 200 kg kapur pertanian (Dolomit) · 200 kg abu sekam · 4 kg primadec (decomposer) · 6 kg pupuk SP-36 Alat : · Cangkul · Terpal · Ember Tahapan pembuatan Pupuk Organik Padat (POP) Kotoran Kambing Siapkan tempat atau hamparan yang ternaungi dan jika hujan tempat tersebut tidak tergenang air. Lakukan proses pencampuran bahan, agar mudah dan merata bisa dilakukan dengan cara membuat lapisan-lapisan. Pembuatan lapisan dengan cara menghamparkan kotoran kambing dan sersah bahan organik lain setebal kurang lebih 30 cm dan taburkan dolomit, abu dan decomposer secukupnya. Kemudian siapkan pupuk SP-36 secukupnya dari dosis yang ditetapkan yang dilarutkan dalam air kemudian disirampkan pada lapisan tersebut hingga kadar air mencapai 40%. Atau bisa diukur dengan cara diremas dengan tangan air tidak meneteskan atau bahan organik tidak pecah saat genggaman tangan dibuka. Buat lapisan berikutnya hingga semua bahan habis, kemudian lapisan tersebut dicangkul dari salah satu sisi searah hingga menimbulkan timbunan baru. Lakukan lagi kearah kebalikannya, kemudian ditimbun atau dibuat gunungan sebesar lebar terpal penutup. Timbunan ditutup rapat dengan terpal dan bagian pinggir terpal diberi beban sehingga jika ada angin terpal tidak terbuka. Diamkan selama 1 minggu, setelah satu minggu terpal dibuka dan timbunan diaduk untuk tujuan pemberian airasi pada proses pengomposan. Proses pengomposan yang berhasil akan timbul panas dan dapat dirasakan saat pembongkaran gundukan. Cara aplikasi pada tanaman : Aplikasi pupuk organik untuk tanaman musiman dapat dilakukan bersamaan saat pengolahan lahan, Pemupukan pada tanaman tahunan, sebaiknya dibenam pada bagian ujung perakaran, dan setiap tanaman umumnya memiliki ujung perakaran berada tepat dibawah daun paling ujung dari tanaman tersebut. Semakin banyak pupuk organik diberikan semakin meningkat kesuburan tahan.
Cara Membuat Pupuk Organik Padat dari Kotoran Kambing 3 Dalam bahasa bugis disebut tai bembe' sedang dalam bahasa Indonesia disebut kotoran kambing. Nah, inilah cara memamfaatkan kotoran-kotoran tersebut. Pengolahan bahan organik/limbah kandang biasanya melihat kondisi kandungan air pada kotoran ternak, jika kotoran ternak pada kondisi basah bahan decomposer sebaiknya menggunakan decomposer padat/tepung, ditambah bahan limbah organik lain (abu, sekam, dolomit, sersah tanaman) agar kelembaban bahan organik dengan kadar air 40%. Sedangkan bila kondisi kotoran ternak kering bisa meggunakan decomposer cair yang dilarutkan pada air kemudian disiramkan sekaligus untuk tujuan mengatur kelembaban dengan kadar air 40%. Teknologi pembuatan pupuk organik dari limbah kandang atau kotoran ternak juga telah banyak dihasilkan dengan berbagai cara pengolahan. Berikut cara pengolahan pupuk organik dari bahan organik kotoran atau limbah kandang ternak kambing. PEMBUATAN PUPUK ORGANIK PADAT DARI KOTORAN KAMBING BAHAN : · 1 ton kotoran kambing · 200 kg kapur pertanian (Dolomit) · 200 kg abu sekam · 4 kg primadec (decomposer) · 6 kg pupuk SP-36 Alat : · Cangkul · Terpal · Ember Tahapan pembuatan Pupuk Organik Padat (POP) Kotoran Kambing Siapkan tempat atau hamparan yang ternaungi dan jika hujan tempat tersebut tidak tergenang air. Lakukan proses pencampuran bahan, agar mudah dan merata bisa dilakukan dengan cara membuat lapisan-lapisan. Pembuatan lapisan dengan cara menghamparkan kotoran kambing dan sersah bahan organik lain setebal kurang lebih 30 cm dan taburkan dolomit, abu dan decomposer secukupnya. Kemudian siapkan pupuk SP-36 secukupnya dari dosis yang ditetapkan yang dilarutkan dalam air kemudian disirampkan pada lapisan tersebut hingga kadar air mencapai 40%. Atau bisa diukur dengan cara diremas dengan tangan air tidak meneteskan atau bahan organik tidak pecah saat genggaman tangan dibuka. Buat lapisan berikutnya hingga semua bahan habis, kemudian lapisan tersebut dicangkul dari salah satu sisi searah hingga menimbulkan timbunan baru. Lakukan lagi kearah kebalikannya, kemudian ditimbun atau dibuat gunungan sebesar lebar terpal penutup. Timbunan ditutup rapat dengan terpal dan bagian pinggir terpal diberi beban sehingga jika ada angin terpal tidak terbuka. Diamkan selama 1 minggu, setelah satu minggu terpal dibuka dan timbunan diaduk untuk tujuan pemberian airasi pada proses pengomposan. Proses pengomposan yang berhasil akan timbul panas dan dapat dirasakan saat pembongkaran gundukan. Cara aplikasi pada tanaman : Aplikasi pupuk organik untuk tanaman musiman dapat dilakukan bersamaan saat pengolahan lahan, Pemupukan pada tanaman tahunan, sebaiknya dibenam pada bagian ujung perakaran, dan setiap tanaman umumnya memiliki ujung perakaran berada tepat dibawah daun paling ujung dari tanaman tersebut. Semakin banyak pupuk organik diberikan semakin meningkat kesuburan tahan.
Cara Membuat Pupuk Organik Padat dari Kotoran Kambing Dalam bahasa bugis disebut tai bembe' sedang dalam bahasa Indonesia disebut kotoran kambing. Nah, inilah cara memamfaatkan kotoran-kotoran tersebut. Pengolahan bahan organik/limbah kandang biasanya melihat kondisi kandungan air pada kotoran ternak, jika kotoran ternak pada kondisi basah bahan decomposer sebaiknya menggunakan decomposer padat/tepung, ditambah bahan limbah organik lain (abu, sekam, dolomit, sersah tanaman) agar kelembaban bahan organik dengan kadar air 40%. Sedangkan bila kondisi kotoran ternak kering bisa meggunakan decomposer cair yang dilarutkan pada air kemudian disiramkan sekaligus untuk tujuan mengatur kelembaban dengan kadar air 40%. Teknologi pembuatan pupuk organik dari limbah kandang atau kotoran ternak juga telah banyak dihasilkan dengan berbagai cara pengolahan. Berikut cara pengolahan pupuk organik dari bahan organik kotoran atau limbah kandang ternak kambing. PEMBUATAN PUPUK ORGANIK PADAT DARI KOTORAN KAMBING BAHAN : · 1 ton kotoran kambing · 200 kg kapur pertanian (Dolomit) · 200 kg abu sekam · 4 kg primadec (decomposer) · 6 kg pupuk SP-36 Alat : · Cangkul · Terpal · Ember Tahapan pembuatan Pupuk Organik Padat (POP) Kotoran Kambing Siapkan tempat atau hamparan yang ternaungi dan jika hujan tempat tersebut tidak tergenang air. Lakukan proses pencampuran bahan, agar mudah dan merata bisa dilakukan dengan cara membuat lapisan-lapisan. Pembuatan lapisan dengan cara menghamparkan kotoran kambing dan sersah bahan organik lain setebal kurang lebih 30 cm dan taburkan dolomit, abu dan decomposer secukupnya. Kemudian siapkan pupuk SP-36 secukupnya dari dosis yang ditetapkan yang dilarutkan dalam air kemudian disirampkan pada lapisan tersebut hingga kadar air mencapai 40%. Atau bisa diukur dengan cara diremas dengan tangan air tidak meneteskan atau bahan organik tidak pecah saat genggaman tangan dibuka. Buat lapisan berikutnya hingga semua bahan habis, kemudian lapisan tersebut dicangkul dari salah satu sisi searah hingga menimbulkan timbunan baru. Lakukan lagi kearah kebalikannya, kemudian ditimbun atau dibuat gunungan sebesar lebar terpal penutup. Timbunan ditutup rapat dengan terpal dan bagian pinggir terpal diberi beban sehingga jika ada angin terpal tidak terbuka. Diamkan selama 1 minggu, setelah satu minggu terpal dibuka dan timbunan diaduk untuk tujuan pemberian airasi pada proses pengomposan. Proses pengomposan yang berhasil akan timbul panas dan dapat dirasakan saat pembongkaran gundukan. Cara aplikasi pada tanaman : Aplikasi pupuk organik untuk tanaman musiman dapat dilakukan bersamaan saat pengolahan lahan, Pemupukan pada tanaman tahunan, sebaiknya dibenam pada bagian ujung perakaran, dan setiap tanaman umumnya memiliki ujung perakaran berada tepat dibawah daun paling ujung dari tanaman tersebut. Semakin banyak pupuk organik diberikan semakin meningkat kesuburan tahan.
Cara Membuat Pupuk Organik Padat dari Kotoran Kambing Dalam bahasa bugis disebut tai bembe' sedang dalam bahasa Indonesia disebut kotoran kambing. Nah, inilah cara memamfaatkan kotoran-kotoran tersebut. Pengolahan bahan organik/limbah kandang biasanya melihat kondisi kandungan air pada kotoran ternak, jika kotoran ternak pada kondisi basah bahan decomposer sebaiknya menggunakan decomposer padat/tepung, ditambah bahan limbah organik lain (abu, sekam, dolomit, sersah tanaman) agar kelembaban bahan organik dengan kadar air 40%. Sedangkan bila kondisi kotoran ternak kering bisa meggunakan decomposer cair yang dilarutkan pada air kemudian disiramkan sekaligus untuk tujuan mengatur kelembaban dengan kadar air 40%. Teknologi pembuatan pupuk organik dari limbah kandang atau kotoran ternak juga telah banyak dihasilkan dengan berbagai cara pengolahan. Berikut cara pengolahan pupuk organik dari bahan organik kotoran atau limbah kandang ternak kambing. PEMBUATAN PUPUK ORGANIK PADAT DARI KOTORAN KAMBING BAHAN : · 1 ton kotoran kambing · 200 kg kapur pertanian (Dolomit) · 200 kg abu sekam · 4 kg primadec (decomposer) · 6 kg pupuk SP-36 Alat : · Cangkul · Terpal · Ember Tahapan pembuatan Pupuk Organik Padat (POP) Kotoran Kambing Siapkan tempat atau hamparan yang ternaungi dan jika hujan tempat tersebut tidak tergenang air. Lakukan proses pencampuran bahan, agar mudah dan merata bisa dilakukan dengan cara membuat lapisan-lapisan. Pembuatan lapisan dengan cara menghamparkan kotoran kambing dan sersah bahan organik lain setebal kurang lebih 30 cm dan taburkan dolomit, abu dan decomposer secukupnya. Kemudian siapkan pupuk SP-36 secukupnya dari dosis yang ditetapkan yang dilarutkan dalam air kemudian disirampkan pada lapisan tersebut hingga kadar air mencapai 40%. Atau bisa diukur dengan cara diremas dengan tangan air tidak meneteskan atau bahan organik tidak pecah saat genggaman tangan dibuka. Buat lapisan berikutnya hingga semua bahan habis, kemudian lapisan tersebut dicangkul dari salah satu sisi searah hingga menimbulkan timbunan baru. Lakukan lagi kearah kebalikannya, kemudian ditimbun atau dibuat gunungan sebesar lebar terpal penutup. Timbunan ditutup rapat dengan terpal dan bagian pinggir terpal diberi beban sehingga jika ada angin terpal tidak terbuka. Diamkan selama 1 minggu, setelah satu minggu terpal dibuka dan timbunan diaduk untuk tujuan pemberian airasi pada proses pengomposan. Proses pengomposan yang berhasil akan timbul panas dan dapat dirasakan saat pembongkaran gundukan. Cara aplikasi pada tanaman : Aplikasi pupuk organik untuk tanaman musiman dapat dilakukan bersamaan saat pengolahan lahan, Pemupukan pada tanaman tahunan, sebaiknya dibenam pada bagian ujung perakaran, dan setiap tanaman umumnya memiliki ujung perakaran berada tepat dibawah daun paling ujung dari tanaman tersebut. Semakin banyak pupuk organik diberikan semakin meningkat kesuburan tahan.
Cara Membuat Pupuk Organik Padat dari Kotoran Kambing Dalam bahasa bugis disebut tai bembe' sedang dalam bahasa Indonesia disebut kotoran kambing. Nah, inilah cara memamfaatkan kotoran-kotoran tersebut. Pengolahan bahan organik/limbah kandang biasanya melihat kondisi kandungan air pada kotoran ternak, jika kotoran ternak pada kondisi basah bahan decomposer sebaiknya menggunakan decomposer padat/tepung, ditambah bahan limbah organik lain (abu, sekam, dolomit, sersah tanaman) agar kelembaban bahan organik dengan kadar air 40%. Sedangkan bila kondisi kotoran ternak kering bisa meggunakan decomposer cair yang dilarutkan pada air kemudian disiramkan sekaligus untuk tujuan mengatur kelembaban dengan kadar air 40%. Teknologi pembuatan pupuk organik dari limbah kandang atau kotoran ternak juga telah banyak dihasilkan dengan berbagai cara pengolahan. Berikut cara pengolahan pupuk organik dari bahan organik kotoran atau limbah kandang ternak kambing. PEMBUATAN PUPUK ORGANIK PADAT DARI KOTORAN KAMBING BAHAN : · 1 ton kotoran kambing · 200 kg kapur pertanian (Dolomit) · 200 kg abu sekam · 4 kg primadec (decomposer) · 6 kg pupuk SP-36 Alat : · Cangkul · Terpal · Ember Tahapan pembuatan Pupuk Organik Padat (POP) Kotoran Kambing Siapkan tempat atau hamparan yang ternaungi dan jika hujan tempat tersebut tidak tergenang air. Lakukan proses pencampuran bahan, agar mudah dan merata bisa dilakukan dengan cara membuat lapisan-lapisan. Pembuatan lapisan dengan cara menghamparkan kotoran kambing dan sersah bahan organik lain setebal kurang lebih 30 cm dan taburkan dolomit, abu dan decomposer secukupnya. Kemudian siapkan pupuk SP-36 secukupnya dari dosis yang ditetapkan yang dilarutkan dalam air kemudian disirampkan pada lapisan tersebut hingga kadar air mencapai 40%. Atau bisa diukur dengan cara diremas dengan tangan air tidak meneteskan atau bahan organik tidak pecah saat genggaman tangan dibuka. Buat lapisan berikutnya hingga semua bahan habis, kemudian lapisan tersebut dicangkul dari salah satu sisi searah hingga menimbulkan timbunan baru. Lakukan lagi kearah kebalikannya, kemudian ditimbun atau dibuat gunungan sebesar lebar terpal penutup. Timbunan ditutup rapat dengan terpal dan bagian pinggir terpal diberi beban sehingga jika ada angin terpal tidak terbuka. Diamkan selama 1 minggu, setelah satu minggu terpal dibuka dan timbunan diaduk untuk tujuan pemberian airasi pada proses pengomposan. Proses pengomposan yang berhasil akan timbul panas dan dapat dirasakan saat pembongkaran gundukan. Cara aplikasi pada tanaman : Aplikasi pupuk organik untuk tanaman musiman dapat dilakukan bersamaan saat pengolahan lahan, Pemupukan pada tanaman tahunan, sebaiknya dibenam pada bagian ujung perakaran, dan setiap tanaman umumnya memiliki ujung perakaran berada tepat dibawah daun paling ujung dari tanaman tersebut. Semakin banyak pupuk organik diberikan semakin meningkat kesuburan tahan.
NEMATODA PARASITIK PADA PEMBIBITAN TANAMAN KAKAO Wednesday, 05 October 2011 06:36 | Ambon, Nematoda parasit seperti spesies Dolichodorus dan Meloidogyne, khususnya M. incognita dan M. javanica dapat menimbulkan kerugian pada tanaman kakao seperti mengurangi hasil panen, menghambat pertumbuhan bibit dan dapat mengakibatkan tanaman mati mendadak. Banyak nematoda parasit yang berasosiasi dengan tanaman kakao seperti Criconemella, Dolichodorus, Helicotylenchus, Heterodera, Hoplolaimus, Meloidogyne, Pratylenchus, Rodopholus dan lain sebagainya, namun beberapa nematoda parasit tersebut belum jelas hubungan patogeniknya. Nematoda parasit Meloidogyne spp. merupakan nematoda parasit yang terpenting pada tanaman kakao karena sifat patogenitasnya dan distribusinya luas di daerah produksi kakao. Meloidogyne telah diketahui terdapat pada tanaman kakao sejak tahun 1900. Spesies nematoda Meloidogyne yang menyerang tanaman kakao diantaranya yaitu : Meloidogyne incognita, M. exigua, M. javanica, M. arenaria dan M. thamesi. Namun, M. incognita merupakan nematoda yang paling sering ditemukan pada tanaman kakao. Gejala kerusakan Berdasarkan Luc et al, (1995) bahwa hasil simulasi di laboratorium nematoda parasit M. incognita yang ditularkan pada bibit tanaman kakao menimbulkan gejala mati ujung, kerdil, layu, daun-daun menguning dan ukuran daun kecil. Gejala serangan pada akar menimbulkan puru-puru kecil dan nampak nematoda betina dengan massa telurnya. Di lahan pembibitan di lapangan, serangan M. incognita menimbulkan gejala puru akar dengan massa telur nematoda parasit berada pada permukaan akar, terjadi mati ujung dan pada kerusakan yang parah tanaman akan mati dengan tiba-tiba. Menurut Sharma dan Sher (1973) dalam Luc et al., (1995) apabila terjadi keadaan yang menimbulkan mati ujung, maka tanaman akan mati sampai ke akar-akarnya, tetapi jika tanaman tersebut masih mentolelir serangan nematoda ini maka tanaman akan bertunas kembali pada musim tumbuh berikutnya sehingga bagian tanaman yang mati dapat dipangkas. Serangan M. javanica juga membentuk puru akar pada pembibitan tanaman kakao. Pada pembibitan tanaman kakao di lapangan, serangan nematoda ini mengakibatkan tanaman kakao lambat dalam pertumbuhannya, bahkan dapat mematikan bibit tanaman kakao tersebut. Gejala serangan yang serupa juga dapat dilihat pada pembibitan tanaman kakao yang terserang oleh M. exigua. Pemindahan bibit tanaman kakao yang terserang/terinfeksi oleh nematoda parasit berarti memindahkan nematoda parasit ke tempat lain. Tanah pada pembibitan yang terifestasi nematoda parasit akan menyebabkan tanaman pada pembibitan terinfestasi juga, sehingga dapat menjadi salah satu media penyebar nematoda parasit ke tempat lain. Selain itu, aliran air permukaan dapat juga menyebarkan nematoda parasit. Meskipun data-data mengenai kehilangan hasil tanaman kakao yang terserang nematoda parasit belum ada, tetapi bukti menunjukkan adanya gejala serangan pada pembibitan tanaman kakao oleh nematoda parasit seperti yang telah disebutkan diatas. Luasnya distribusi nematoda parasit di banyak daerah sentra produksi kakao dapat menghambat produktivitas dan menimbulkan dampak ekonomi pada daerah tersebut. Serangan nematoda parasit Pratylenchus brachyurus dan Pratylenchus coffeae yang menginfeksi akar tanaman kakao mengakibatkan terjadinya luka pada akar tanaman. Sedangkan gejala serangan akibat nematoda parasit Dolichodorus sp. mengakibatkan mati ujung dan kematian bibit pada pembibitan tanaman kakao. Akibat serangan nematoda Dolichodorus sp. menyebabkan seluruh sistem perakaran tanaman kakao berkurang, menjadi hitam dan tampak adanya disintegrasi pada korteks dan terbentuk puru seperti manik-manik. Bagian akar yang berpuru berwarna coklat-merah dan keras. Untuk mendiagnosis serangan nematoda parasit dilakukan dengan pengambilan sampel tanah dan akar, kemudian dilakukan ekstraksi untuk mengetahui keberadaan nematoda parasit yang menyerang tanaman tersebut. Pengendalian Tindakan pengendalian yang digunakan untuk mengendalikan serangan nematoda parasit adalah sebagai berikut ; 1. Membuat bibit yang bebas dari nematoda parasit utama; 2. Menanam pada tanah atau areal yang bebas dari nematoda parasit; 3. Tanah yang digunakan untuk pembibitan harus disterilkan dengan metil bromida dengan dosis 196 cm3 tiap 1 m3 tanah atau dikumpulkan dari area yang tidak terinfestasi oleh nematoda parasit; 4. Cara lain adalah dengan perlakuan menggunakan udara panas untuk sterilisasi hingga suhu mencapai 1000C selama satu jam. Lahan yang akan ditanami tanaman kakao harus disurvei berkaitan dengan kehadiran nematoda parasit sebelum penanaman bibit yang bebas dari infeksi nematoda. Pada perkebunan yang telah terinfestasi, maka menggunakan nematisida untuk pengendaliannya; 5. Dalam memilih tanaman penaung harus lebih berhati-hati, hindari penggunaan tanaman penaung yang rentan terhadap nematoda puru akar ataupun nematoda luka akar, misalnya tanaman pisang. Dengan mengetahui bahaya dari serangan nematoda parasit pada pembibitan tanaman kakao yang pada serangan parah dapat mengakibatkan kematian tanaman, sehingga kita lebih mengenali gejala serangannya sejak dini untuk untuk segera melakukan tindakan pengendalian guna meminimalisir kerugian yang ditimbulkannya.
Ekologi Tumbuhan Konsep Ekologi Tumbuhan Ekologi merupakan gabungan dari dua kata dalam Bahasa Yunani yaitu oikos berarti rumah dan logos berarti ilmu atau pelajaran. Secara etimologis ekologi berarti ilmu tentang makhluk hidup dan rumah tangganya. Dengan kata lain defenisi dari ekologi ialah ilmu yang mempelajari hubungan timbal balik antara makhluk hidup dengan lingkungannya. Berdasarkan defenisi di atas maka yang dimaksud dengan Ekologi tumbuhan adalah ilmu yang mempelajari hubungan timbal balik antara tumbuhan (tumbuhan yang dibudidayakan) dengan lingkungannya. Lingkungan hidup tumbuhan dibagi atas dua kelompok yaitu lingkungan biotik dan abiotik. Batasan Ekologi Tumbuhan Ekologi tumbuhan adalah ilmu yang mempelajari hubungan timbal balik antara tumbuhan dengan lingkungannya. Tumbuhan membutuhkan sumberdaya kehidupan dari lingkungannya, dan mempengaruhi lingkungan begitu juga sebaliknya lingkungan mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan tumbuhan. Ekologi dibagi atas dua bagian yaitu Sinekologi dan Autekologi. Ekologi dibagi atas dua kelompok yaitu autekologi, dan sinekologi. Autekologi ialah ilmu yang mempelajari hubungan antara satu individu atau satu spesies dengan alam lingkunganya. Sinekologi ialah ilmu yang mempelajari hubungan antara beberapa grup individu yang berasosiasi bersama-sama sebagai satu unit dengan alam lingkungannya. Tujuan dan Manfaat Ekologi Tumbuhan Tujuan utama mempelajari ekologi tumbuhan adalah memperoleh hasil yang optimal dari teknik budidaya yang dilakukan dan menjaga lingkungan agar terhindar dari kerusakan sebagai warisan untuk anak cucu kita. Lingkungan akan mempengaruhi jenis tumbuhan yang sesuai untuk dibudidayakan pada kawasan, penjadwalan dan teknik budidaya yang digunakan. Oleh karenanya pengetahuan tentang lingkungan sangat penting artinya bagi sektor pertanian. Kebijakan mengenai pemeliharaan lingkungan di satu sisi dan peningkatan produksi di sisi lainnya akan sangat tergantung bagaimana pemahaman mengenai lingkungan. Pengurangan penggunaan bahan kimia dalam aktivitas budidaya untuk mencegah terjadinya degradasi lingkungan menjadikan pengetahuan ekologi tumbuhan semakin penting dalam merancang bangun sistem budidaya pertanian. Pemanfaatan sumber daya lingkungan secara optimal dengan dampak seminimum mungkin merupakan sistem pertanian yang menjadi idaman.